Postcards From London: A Prologue

Postcards From London: A Prologue

Whitechapel, Oktober 2016

Postcard lagi, ri?”
Hehe, iya, Mbak.”
“Kamu tuh ya, sekarang itu sudah ada banyak aplikasi chat, email bisa diakses 24/7, kalau mau ngobrol tinggal free call saja kok ya masih mau susah-susah nulis postcard, capek-capek ke kantor pos, belum lagi harga perangko ‘kan nggak murah.”
“Hehe. Iya sih, Mbak.”, ujarku sambil masih berkutat dengan kartu pos terakhir yang akan kukirimkan.
“Memangnya kamu itu nulis buat siapa sih? Ini sudah ketiga kali aku lihat kamu menulis minggu ini, sering banget.”
Jemariku terhenti sejenak mendengar pertanyaan Mbak Lisa. Aku alihkan pandanganku ke matanya yang sedari tadi memperhatikanku. Aku menjawabnya hanya dengan sebuah senyum. Aku kemudian bergegas meraih jaketku, sudah saatnya berangkat.

“Ruri..”, suara Mbak Lisa lirih memanggilku yang sudah membelakanginya.
“Kamu nggak boleh begini terus.. Kita pulang, yuk. Akhir tahun ini Mbak dapat cuti dan bisa nemenin kamu pulang. Kita cari udara segar ya, Ri.” Continue reading “Postcards From London: A Prologue”

Hey, I am Finally Here.

IMG_0431.JPG

Alhamdulillah, setelah 8+8 jam perjalanan, saya akhirnya sampai di kota ini. Insya Allah akan melanjutkan studi S2 di University College London.

Bagaimana rasanya, ci?

Entah sudah berapa orang yang menanyakan ini: bagaimana rasanya ci sudah sampai UK, sudah tercapai impiannya untuk lanjut studi?

Bagaimana ya?

I’m a very lucky girl, indeed. Jalan menuju kota ini entah kenapa alhamdulillah begitu dipermudah oleh Allah. Meski sempat tersandung di persiapan IELTS, Allah juga memberikan perantara kepada saya sehingga saya bisa tetap tidak menyerah untuk bergerak agar bisa mencapai kota ini. Allah hadiahi teman-teman serumah yang baik-baik, lingkungan tempat tinggal yang nyaman, serta proses pre-study adminustration yang juga lancar.

Kadang berpikir, justru apakah dengan semuanya baik-baik saja ini adalah sebuah pertanda lain? Tapi saya tidak ingin berprasangka buruk.

Sudah seminggu sayamenginjakkan kaki di kota ini. Perasaannya masih campur aduk. Masih ada rasa kehilangan dan kekosongan. Masih banyak, banyak sekali rasa takut. Tapi disamping semua itu, saya harus tetap terus menguatkan diri.

Yang kuat ya, Suci.

Bismillah..

Get That Scholarship! Pengalaman Aplikasi Beasiswa LPDP

Get That Scholarship! Pengalaman Aplikasi Beasiswa LPDP
XLFL.jpg
XL Future Leader Sharing

Awal bulan Juni lalu, saya diminta untuk mengisi sesi sharing serta memberikan tips dan trik mendapatkan beasiswa lanjut kuliah ke luar negeri oleh XL Future Leader. Alih-alih memberikan tips dan trik (yang sebenarnya ya saya bingung juga karena nggak punya kalau tips dan trik supaya bisa diterima), saya malah kebanyakan ceritanya (seperti biasa). Lewat beberapa bagian tulisan, saya mau mulai berbagi pengalaman saya saat mempersiapkan seleksi beasiswa dan aplikasi program S2 di UK. Nah, untuk bagian pertama, saya mau berbagi apa yang tempo hari saya sampaikan di sesi sharing XL Future Leader.

***

Alhamdulillah, saya mendapat kesempatan untuk bisa melanjutkan studi ke University College London bulan September nanti. Untuk menunjang studi yang akan saya lakukan, LPDP RI kemudian bersedia untuk menerima saya sebagai awardee PK-67. Seleksi beasiswa LPDP sendiri berlangsung sepanjang tahun dan dibagi menjadi empat batch berbeda. Untuk informasi lebih lanjut terkait beasiswa ini, termasuk syarat aplikasi dan deadline masing-masing batch, silakan kunjungi halaman ini. Continue reading “Get That Scholarship! Pengalaman Aplikasi Beasiswa LPDP”

1. Dear London

1. Dear London

gambar fitur diambil dari: www.internationaltravellermag.com

Kesiapan untuk memilih hanya akan datang pada mereka yang sudah pernah menyelam jauh ke dalam hati. Menjelajahi pertanyaan dan jawaban ke dalam diri sendiri.
– kak Iqbal Hariadi P. di salah satu post Tumblr-nya.

***

Setiap orang punya definisi mereka sendiri soal cinta. Iya, kata absurd itu. Dari ibu, aku belajar bahwa cinta adalah selalu soal kasih sayang yang tidak ada batasnya, kesabaran, pengorbanan, dan kesetiaan. Dari ayah, aku belajar bahwa cinta bukan apa yang dikatakan, tapi apa yang dirasakan oleh hati dan yang tercermin dari perbuatan.

Continue reading “1. Dear London”

Belajar

“Belajarlah untuk mengerti sesuatu. Bukan untuk tampak bagus di hadapan orang lain”
~katanya

Belajarlah untuk mengerti, untuk paham, untuk jadi bisa. Untuk nanti bergaul, mencari pengalaman, menulis thesis dan paper, membaca cerita-cerita menarik, untuk menjadi pendengar yang baik. Dan, untuk bisa belajar lagi dan lagi.

Bukan untuk sekadar lulus tes atau dapat skor tinggi.

Camkan itu Suci. Lamat-lamat.

Menjemput Rezeki

Hari Minggu kemarin (6 Maret 2016), saya menjadi panitia acara pernikahan sahabat saya, Hana Fitriani yang berbahagia. Saya diamanahkan oleh Hana untuk menjadi koordinator panitia penerima tamu (yang kerjaannya sebenarnya hanya memastikan Kak Alfi, Kak Ivan, dan Iran datang tepat waktu, hehe). Rasanya hari itu bahagia sekali melihat Hana yang senyumnya teramat sumringah :”)

Dua hari kemudian, tepatnya hari Selasa 8 Maret 2016, saya sedang tertahan di lab belum bisa pulang karena hari masih hujan lebat. Saat mau keluar turun sebentar untuk beli Air Jeruk Hangat, saya memperhatikan sepatu Crocs abu-abu saya yang kondisinya sudah memprihatinkan. Di kala hujan seperti ini, sepatu ini bakat sekali mencipratkan air-air genangan yang saya pijakkan ke rok saya. Sudah saatnya diganti, pikir saya.

Saat itulah saya tersadar… Continue reading “Menjemput Rezeki”

Terpilih

Di kantin Fasilkom, ada sebuah peraturan unik. Untuk menghindari adanya persaingan tidak sehat antar para pedagangnya, pihak Fakultas hanya mengizinkan setiap pedagang untuk menjual jenis makanan yang berbeda. Jadi, hanya ada satu pedagang yang menjual nasi uduk, satu pedagang yang menjual soto, satu pedagang yang menjual siomay, dst. Bahkan, yang menjual minuman hangat, minuman dingin, dan minuman kemasan juga berbeda.

Ada kelebihan dan kekurangan dari diberlakukannya peraturan ini.

Kelebihannya, sesuai dengan tujuannya, kantin Fasilkom termasuk kantin yang nyaman dan jarang terdengar ‘konflik’ yang terjadi di internal para pedagang (walaupun katanya sih dulu pernah terjadi sih sebentar). Lalu, kita juga nggak perlu pusing-pusing memilih. Kalau lagi mau makan jejepangan, kita tinggal langsung pesan di Mas Jepang. Pengen makan yang komplit 4 sehat, langsung aja ke rames-nya Bu Ani. Beli Kiyora Matcha langsung cus ke Bu Yanto.

Tapi…

Continue reading “Terpilih”