Terpilih

Di kantin Fasilkom, ada sebuah peraturan unik. Untuk menghindari adanya persaingan tidak sehat antar para pedagangnya, pihak Fakultas hanya mengizinkan setiap pedagang untuk menjual jenis makanan yang berbeda. Jadi, hanya ada satu pedagang yang menjual nasi uduk, satu pedagang yang menjual soto, satu pedagang yang menjual siomay, dst. Bahkan, yang menjual minuman hangat, minuman dingin, dan minuman kemasan juga berbeda.

Ada kelebihan dan kekurangan dari diberlakukannya peraturan ini.

Kelebihannya, sesuai dengan tujuannya, kantin Fasilkom termasuk kantin yang nyaman dan jarang terdengar ‘konflik’ yang terjadi di internal para pedagang (walaupun katanya sih dulu pernah terjadi sih sebentar). Lalu, kita juga nggak perlu pusing-pusing memilih. Kalau lagi mau makan jejepangan, kita tinggal langsung pesan di Mas Jepang. Pengen makan yang komplit 4 sehat, langsung aja ke rames-nya Bu Ani. Beli Kiyora Matcha langsung cus ke Bu Yanto.

Tapi…

Kekurangan dari sistem ini adalah kita hanya bisa memilih makanan berdasarkan menu makanannya saja, bukan berdasarkan kualitas rasa dan kemungkinan kondisi kualias-kualitas yang lain dari menu sejenis tersebut. Contohnya, saya belum terlalu cocok dengan saus asam manis-nya Mas Jepang. Saya juga belum bisa oke dengan porsi nasi goreng yang ada di kantin Fasilkom yang buanyak banget ataupun martabak mie-nya yang minyaknya juga masih berasa banyak banget di lidah saya. Saya suka banget makan sayur kangkung, tapi jarang bisa nemu ‘teman’ lauk yang pas di rames-nya Bu Ani. Saya juga agak menolak kalau sesuatu dimasak dengan minyak yang sudah sampai terlalu hitam. (Riweuh ya selera makan saya? Punteun yah)

Akhirnya, kondisi kantin Fasilkom memudahkan mahasiswa untuk memilih dengan cara membatasi variabel (kalau di bahasa Machine Learning istilahnya features) menu. Yaitu dengan hanya menyediakan pilihan: mau makan apa? (variabel ‘jenis’ menu saja).
((Tapi bisa juga sih sebenarnya dengan mau makan dengan harga berapa. hehe)). Tidak apa kok sistem ini diteruskan. Dan semoga ini juga tidak serta merta membuat para pedagangnya enggan untuk memperbaiki kualitas menu yang disajikan ya. Aamin.

***

Tapi memilih tak pernah semudah itu. Menjadi terpilih juga rasanya tidak menyenangkan kalau alasannya hanya karena ‘tidak ada pilihan lain’.

Semoga, jika suatu saat nanti diri kita terpilih, kita terpilih karena kita adalah seseorang yang memang baik (dan terbaik). Semoga kita terpilih karena kualitas yang ada dalam diri kita.

Semoga, kita bisa menjadi manusia yang senantiasa lebih baik terus ke depannya ya🙂

Aamiin..

PS: Lagi-lagi gagal mau nulis #asharmenulis di sini pake bahasa Inggris. heu.

2 thoughts on “Terpilih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s