gambar fitur diambil dari: www.internationaltravellermag.com

Kesiapan untuk memilih hanya akan datang pada mereka yang sudah pernah menyelam jauh ke dalam hati. Menjelajahi pertanyaan dan jawaban ke dalam diri sendiri.
– kak Iqbal Hariadi P. di salah satu post Tumblr-nya.

***

Setiap orang punya definisi mereka sendiri soal cinta. Iya, kata absurd itu. Dari ibu, aku belajar bahwa cinta adalah selalu soal kasih sayang yang tidak ada batasnya, kesabaran, pengorbanan, dan kesetiaan. Dari ayah, aku belajar bahwa cinta bukan apa yang dikatakan, tapi apa yang dirasakan oleh hati dan yang tercermin dari perbuatan.

Aku pernah jatuh cinta pada sebuah kota. Sebuah kota yang sebenarnya semrawut oleh banyaknya kendaraan dan diperparah oleh angkot-angkot yang berhenti semaunya. Yang terik sekali saat siang, tapi punya langit yang tetap biru indah saat cerah. Yang panasnya selalu bisa melahirkan ucap syukur ketika angin sepoi di sore hari akhirnya bisa menerpa wajah.

Dulu saat pertama kali pindah, aku tidak tahu apa-apa soal kota ini. Hampir lima tahun berselang, akhirnya kota ini bisa punya cukup banyak cerita dan melahirkan orang-orang yang berharga di dalamnya. Waktu yang tidak sebentar. Iya, kalau ada lagu yang bilang bahwa jatuh cinta hanya butuh satu jam, kalau dalam kasusku, aku belum pernah bisa begitu.

***

Alhamdulillah, dari mulai LoA, proses pindah universitas, pencarian akomodasi, hingga CAS yang sebagian besar mahasiswa lain belum dapatkan hingga hari ini, Allah berikan kemudahan semuanya. Semoga, memang karena aku berjodoh dengan kota itu.

Berangkat selalu adalah sebuah perpindahan, bukan soal besaran jarak. Berangkat selalu bukan hanya soal apa yang dibawa, tapi juga apa yang ditinggalkan. Berangkat adalah soal apa yg perlu disimpan soal kemarin, yang dijalani hari ini, dan yang akan dicapai esok hari.

Dasar time freak, berangkat akan selalu soal orang-orang yang ada di lingkaran ini. Soal ibu, ayah, si ganteng, dan si pintar. Soal aku, kamu, dia, mereka. Soal beban amanah yang tidak kecil.

Dasar time freak, lagi-lagi pikiranku menerawang jauh ke depan. Tentang hal-hal yang ingin dicapai. Tentang hal-hal yang mungkin terjadi.

Maka apa yang bisa kulakukan hari ini?

Agar aku pun bisa jatuh cinta dengan kota itu. Agar aku bisa datang sebagai versi terbaik diriku, menjalaninya sebagai versi terbaik diriku, pulang pun sebagai versi terbaik diriku. Agar aku tetap bisa memeluk dan menjaga apa-apa yang penting dan berharga.

***

Dear London,
Aku tahu kamu bukan Depok apalagi Tokyo. Bahkan sejak lama sebelum kita bertemu, sudah begitu banyak do’a yang kuhaturkan pada setiap saat hujan turun di sore hari kota ini. Di Ashar beberapa waktu belakangan ini.

Dear London,
Ingatkan aku selalu soal tujuanku.

Be friend of mine ya, London.

Ya Allah Sang Maha Penjaga.
Jagalah mereka untukku.

Menulis yang jujur dan cukup,
Suci.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s