Energi

Dalam Fisika, energi itu kekal. Jumlahnya akan selalu seimbang. Tidak akan hilang, hanya dapat berubah bentuk, dan berpindah tempat.

Energi itu terpancar. Energi juga disalurkan dari satu objek ke objek lain. Kamu bisa menyalurkan energi, pun bisa menjadi objek yang menerima energi.

Hebat itu adalah ketika kita bisa mengubah energi negatif yang ada pada diri kita menjadi energi-energi positif.
Adalah ketika kita kemudian bisa memancarkan energi positif ke sekitar kita.

Dan yang lebih hebat lagi adalah ketika kita bisa menepis energi-energi negatif yang berusaha masuk dan mengubahnya menjadi energi positif..
Tenang. Tidak terpengaruh. Menjadi cahaya.

Tapi yang terakhir, susahnya susah sekali.

Berhenti Sejenak

Berhenti Sejenak

Belum satu minggu sejak saya kembali ke London dari libur lebaran kemarin, tapi rasanya sudah lamaaa sekali. Mode mengejar banyak hal pasca liburan dipasang. Waktu rasanya jalan kayak siput. Selama apa pun saya mencoba fokus di depan laptop, saya merasa terus-terusan sedang butuh mencari fokus lain. Di sinilah saya merasa waktu memang sebegitu relatifnya. Sama seperti Depok di  masa kuliah yang selalu menghadirkan atmosfer kerja, sekarang London yang jadi begitu. Dan yap, London sangat mendukung menambah atmosfer itu.

Sejak langkah pertama keluar rumah, kamu harus siap dengan langkah orang-orang yang bergerak serba cepat. Ditambah lagi, jumlahnya banyak. Kemudian, kereta underground yang bergerak cepat menghasilkan suara super bising. Kereta yang padat ditemani suhu kota London di musim panas menambah penat.

Dan, pagi ini jadwal saya bimbingan dengan supervisor tugas akhir saya.

Continue reading “Berhenti Sejenak”

The Centre of Your Concern

Semakin bertambah usia, saya belajar bahwa sebagai perempuan dewasa, ada satu skill yang sangat penting untuk dimiliki: dealing with questions.

Waktu masih muda dulu (sekarang juga masih muda padahal), pertanyaan-pertanyaan seperti: habis ini mau lanjut ke SMP mana, SMA mana, jurusan apa, IPKnya berapa, kapan lulus, sudah sampai bab berapa; memang sudah terasa berat di masanya untuk kita. Tapi saat itu, pertanyaan-pertanyaan tersebut masih terpusat pada diri kita sendiri sebagai individu secara umum, semua orang seusia kita menghadapinya secara seragam, dan kita juga masih ada kedua orang tua kita yang akan memihak dan membantu kita.

Sejak memasuki universitas kehidupan yang sebenarnya pasca masa persekolahan, perempuan-perempuan akan menghadapi lebih banyak lagi pertanyaan yang terpusat pada dirinya sebagai seorang perempuan. Yang membahagiakan bagi kedua orang tuanya mungkin sudah bukan lagi soal karir bagus, lomba/penghargaan internasional, atau rentetan prestasi yang bisa ditulis di CV lagi.

“In our society, success for men is positive whereas for women is negative.” – Sheryl Sandberg, Lean In.

Continue reading “The Centre of Your Concern”

Rindu

London, 18.31 GMT

Hidupku berubah sejak menjejakkan kaki di negeri ini.
Sisi introvert-ku menang banyak.
Kamar jadi tempat paling nyaman.
Aku benci ramai.
Duniaku yang meluas ternyata juga bisa menimbulkan banyak ketakutan.
Aku mengungsikan diri dibalik rak-rak buku, mencari duniaku.

Iya, aku rindu.
Rindu lingkaran yang menumbuhkan.
Lingkaran orang-orang “gila” yang sibuk memikirkan urusan orang banyak.
Orang “aneh” yang hobby-nya memikirkan masalah.
Memikirkan masalah bukan untuk dicela, tapi untuk dicari solusinya.
Yang obrolannya adalah “bagaimana kalau begini? bagaimana kalau begitu?”
Yang tidak takut dengan ide, tidak takut dengan revisi, tidak mudah berhenti.
Bekerja berjam-jam untuk menjadi bermanfaat untuk orang banyak..

Aku rindu.

Mungkin kini, fase hidupnya memang berbeda.
Dan aku harus bersabar, menghargai proses..
Karena dengan puluhan reading list ini, aku juga sama berjuangnya.
Untuk tujuan yang sama untuk bisa bermanfaat, insyaaAllah.

Di suatu sudut di perpustakaan daerah London,
Suci Fadhilah

Suci dan Outer Rajut

Suci dan Outer Rajut

 

gambar fitur dari dokumen pribadi, diambil oleh kak @nikenfitria.

***

I am not a very fashionable person. Dan saya juga termasuk satu dari sekian wanita yang nggak ikut trend fashion, nggak terlalu peduli sama merk baju, dan baru saja punya anggaran khusus “biar nggak kucel” di anggaran bulanan sejak lulus kuliah (itu pun sering pada akhirnya dialokasikan untuk beli hal lain, heheu). Tapi, kalau urusan penampilan, saya juga sudah bukan perempuan yang cuek-cuek amat lagi.  Continue reading “Suci dan Outer Rajut”

2. Counterfactual Thinking

Dalam ilmu psikologi, ada sebuah term yang cukup menarik, counterfactual thinking. Counterfactual thinking adalah kondisi saat kita sedang membayangkan skenario ‘seandainya’ yang terjadi adalah hal lain yang berbeda, bukan hal yang benar-benar sudah terjadi. Contohnya, kita menemukan satu soal yang tidak bisa kita jawab saat ujian, kita pun berujar seandainya semalam kita menyempatkan diri membaca satu bab yang tertinggal itu, atau bertanya pada teman, kita pasti bisa mendapatkan nilai yang jauh lebih baik. Atau, seperti film Final Destination, seandainya sang tokoh utama tidak memutuskan turun dari pesawat tepat sebelum lepas landas, pastilah dia sudah tak lagi bernyawa saat itu.

Katanya kondisi ini, surprisingly, ternyata adalah hal yang normal dan biasa pada diri seorang manusia. Dan aku, sering sekali melakukan hal ini. Tujuannya? Kebiasaan ini adalah salah satu caraku untuk mengingatkan diri untuk selalu bersyukur.  Continue reading “2. Counterfactual Thinking”

Sakura Wisdom 🌸

20150323_104559.jpg
Foto: Suci Fadhilah (Tokyo, 24 Maret 2015) – mohon cantumkan sumber jika ingin menggunakan foto ini 🙂

April sudah tiba. Musim semi tlah tiba.
Bulannya sakura.

🌸🌸🌸

If I had to go, will everything be okay?

🌸🌸🌸

Kalau Nay sering bilang bahwa ia ingin menjadi seperti cahaya, yang menerangi  orang-orang di sekitarnya, Suci ingin jadi seperti sakura. Continue reading “Sakura Wisdom 🌸”