XLFL.jpg
XL Future Leader Sharing

Awal bulan Juni lalu, saya diminta untuk mengisi sesi sharing serta memberikan tips dan trik mendapatkan beasiswa lanjut kuliah ke luar negeri oleh XL Future Leader. Alih-alih memberikan tips dan trik (yang sebenarnya ya saya bingung juga karena nggak punya kalau tips dan trik supaya bisa diterima), saya malah kebanyakan ceritanya (seperti biasa). Lewat beberapa bagian tulisan, saya mau mulai berbagi pengalaman saya saat mempersiapkan seleksi beasiswa dan aplikasi program S2 di UK. Nah, untuk bagian pertama, saya mau berbagi apa yang tempo hari saya sampaikan di sesi sharing XL Future Leader.

***

Alhamdulillah, saya mendapat kesempatan untuk bisa melanjutkan studi ke University College London bulan September nanti. Untuk menunjang studi yang akan saya lakukan, LPDP RI kemudian bersedia untuk menerima saya sebagai awardee PK-67. Seleksi beasiswa LPDP sendiri berlangsung sepanjang tahun dan dibagi menjadi empat batch berbeda. Untuk informasi lebih lanjut terkait beasiswa ini, termasuk syarat aplikasi dan deadline masing-masing batch, silakan kunjungi halaman ini.

Saat pertama kali mencari informasi mengenai LPDP, saya mendengar beberapa orang mengeluhkan banyaknya syarat dokumen yang diberikan oleh LPDP. Surat keterangan berkelakuan baik lah, surat keterangan sehat yang harus dari Rumah Sakit Umum Daerah milik Pemerintah lah, dan sebagainya. Hal ini akan sangat memakan waktu untuk mereka yang berkerja nine-to-five setiap harinya. Oleh karena itu, salah satu hal yang saya lakukan pertama kali setelah memutuskan akan mengajukan aplikasi ke LPDP adalah: membuat perencanaan.

Berikut rencana secara umum yang saya buat saat itu (sebenarnya saya membuat yang sangat detil di agenda tertulis saya, tapi saya coba digitalisasi seperti ini):

plan.JPG

Lalu, bagaimanakah realita yang terjadi? Seperti ini:

plan_reality.JPG

Yap. Timeline saya meleset pada target menulis essai, bukan di masalah syarat dokumen yang banyak (Dokumen yang saya maksud di sini syarat aplikasi selain essai dan rekomendasi seperti surat sehat, ijazah, dsb). Saya pribadi tidak memperoleh banyak peringatan soal penulisan essai ini. Kenapa? Berbeda dengan personal statement untuk aplikasi ke universitas yang menggunakan Bahasa Inggris sehingga butuh banyak sekali iterasi revisi, essai LPDP ditulis dengan Bahasa Indonesia. Apakah ini membuat prosesnya menjadi lebih mudah? Bagi beberapa orang mungkin iya, tapi saya sangat menyarankan untuk tidak menganggap remeh essai berbahasa Indonesia yang diminta oleh LPDP, bahkan, berikanlah perhatian khusus untuk ketiga essai tersebut.

Mengapa demikian?

Ada tiga essai yang perlu ditulis dalam aplikasi LPDP: (1) Kontribusiku untuk Indonesia, (2) Kesuksesan Terbesar dalam hidupku, dan (3) Rencana studi. Masing-masing essai harus ditulis dalam paling banyak hanya 700 kata. Tema essai ini ternyata terasa cukup berat untuk saya. Dalam essai (1), saya perlu cukup banyak waktu untuk melihat ke belakang—soal apa saja yang sudah pernah saya lakukan dan capai, mempresentasikan apa yang sedang saya lakukan sekarang, untuk kemudian menyusun argumen bahwa hal-hal tersebut bisa mendukung saya untuk bisa memberikan kontribusi untuk Indonesia di masa depan. Dalam essai (2), saya tidak bisa serta merta hanya menceritakan dan mendaftar semua kesuksesan atau achievement yang pernah saya capai—yang pada akhirnya saya tahu bahwa essai ini akan merepresentasikan bagaimana kita menentukan prioritas hidup dan nilai-nilai yang kita punya dalam hidup, karena definisi “sukses” itu berbeda untuk setiap orang. Untuk essai terakhir, rencana studi bukan hanya soal saya mengambil sekian sks, mengambil program ini, di universitas ini, dsb. Tapi, saya harus bisa menulis rencana-rencana aksi konkret yang akan diambil untuk mencapai mimpi kontribusi yang akan diberikan dalam essai (1), beserta alasan yang kuat.

Betul, essai ini adalah tentang mengenal diri kita lebih dalam lagi. Saya tidak tahu sebenarnya orang seperti apa yang dicari oleh LPDP—yang katanya punya nasionalisme yang tinggi, karakter para pahlawan Indonesia, dan punya kepemimpinan yang baik itu. Karena itulah, saya perlu banyak sekali waktu untuk menulis. Bonusnya, Alhamdulillah saat seleksi substansif, pertanyaan dari para interviewer yang diberikan kepada saya tidak jauh dari apa yang saya tulis di ketiga essai saya. Bahkan, para interviewer serius membaca dan menggali essai saya (Jadi, nggak ada pertanyaan rencana nikah kapan, punya pacar yang mendukung kamu studi di luar negeri, atau bagaimana kalau kecantol ama bule di luar negeri, dan semacamnya itu :p).  

Seleksi aplikasi beasiswa LPDP tidak begitu panjang prosesnya, namun ada beberapa tahap yang harus dilewati. Setelah seleksi dokumen, masih ada seleksi substantif yang terdiri dari tiga jenis tes: penulisan on the spot essay, leaderless group discussion (LGD), dan interview. Saya akan ceritakan secara detil di post-post selanjutnya. Namun, secara umum ini lah yang saya lakukan selama perjalanan seleksi beasiswa:

  1. Know Your Own Self. Mencoba mengenal diri saya dan akan punya tugas apa saya nanti di masyarakat.
  2. Follow the Rules. Dokumen yang disyaratkan memang banyak, tapi ini sangat esensial dalam menentukan nasib aplikasi saya. Kurang satu syarat saja, saya bisa tidak lolos seleksi dokumen dan saya tidak bisa benar-benar berperang untuk menunjukkan potensi saya. Kuncinya, petakan persiapan dokumen juga dengan serius. Jangan sampai ada yang kurang atau tidak sesuai ketentuan.
  3. Practice. Saya berlatih menulis essai on the spot lewat writing Saya juga berlatih dengan beberapa teman yang akan mendaftar LPDP juga untuk melakukan simulasi LGD. Saya juga berlatih dengan sahabat saya untuk mempersiapkan interview. Dari berlatih, saya bisa menilai kesiapan diri saya dan juga mendapat banyak masukan dari orang lain tentang performa saya.
  4. Ask. Saya bertanya pada banyak awardee di sekitar saya dan mencoba mencari informasi sebanyak mungkin mengenai seleksi seperti apa yang akan saya jalani. Belajar dari pengalaman orang lain selalu menyenangkan.
  5. Pray. Setelah semua usaha, do’a adalah elemen penting yang tidak boleh terlewat. Saya benar-benar pasrah setelah seleksi selesai. Nggak lupa minta do’a kedua orang tua dan dari banyak orang juga.. Do the best, then let God do the rest.

Demikian yang bisa saya ceritakan di post pertama ini. Semoga bermanfaat🙂

***

Saya suka sekali cerita dan sharing! Saya ingin mencoba berbagi ilmu mengenai bagaimana persiapan yang saya lakukan untuk aplikasi S2 ke University College London. Dari hasil meramu berbagai sumber dan guru, saya ingin mencoba menyampaikannya lewat kelas mentorship Study Abroad Preparation via Cozora.com. Materinya mencakup workshop exploring, planning, dan personal statement writing. Bagi yang berminat, silakan kunjungi link bit.ly/studypreparation. Semoga bermanfaat!😀

cover_image.jpg

*Featured image merupakan hasil pertama kali mencoba menggambar dengan Intuos Comic punya si adik  #Misi21. Masih belepotan banget😦 Butuh 9998 jam lagi untuk bisa mahir menggambar digital. Semangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s