Bersyukur, Berbenah dan Bersabar

Saya pindah lagi. Sekarang kembali ke kota yang sebelumnya sudah pernah menjadi rumah. Bahkan mungkin sebenarnya belum pernah benar-benar ditinggalkan: Depok.

Setahun setelah meninggalkan kota ini, tidak banyak hal yang berubah. Mungkin hanya Griya Ilmi yang internetnya tidak sekencang dulu. Atau abang nasi kuning kober yang sudah tidak ada lagi di tempat biasanya pagi-pagi. Atau penyebrangan di depan es pocong yang sekarang pindah ke depan Alf*ma*t (yang saya curigai karena politik dengan In*ma*t di seberangnya #eh). Atau harga makanan di warteg yang sudah tidak lagi pernah di bawah 10ribu. Atau Fasilkom yang sekarang punya ATM BNI. Atau pocin yang sekarang sudah punya jembatan penyebrangan. UI yang sekarang lebih ramah pejalan kaki. Atau udang di Mbak sayur yang sekarang jadi 18ribu.

Tapi ada juga yang saya sedihkan. Kami cafe yang tutup. Sate Padang enak yang kehilangan tempat jualannya dan harus berkeliling dengan gerobak saja sekarang. Pin Insan Cendekia yang jatuh dan rusak. Pakde laundry yang pindah tanpa kabar. Perpustakaan UI yang semakin gundul.

Selebihnya, Margonda masih sangat ramai. Bapak kosan masih sangat responsif dan ramah. Matahari Depok masih sangat terik. Hujannya Depok masih ramai kalau turun dan ngagetin. UI masih banyak lahan hijaunya. UI sudah ada penerang jalan. Naya masih di kosan yang sama. Caca yang sekarang tetap bisa satu kosan. Orang-orang kantin yang masih sama ramahnya. Dan oh, sekarang bisa makan nasi merah plus ati plus sayur asem. Kombinasi yang sempurna, bukan?

Alhamdulillah, Depok masih menawarkan banyak kebahagiaan setiap harinya.
Tapi Depok juga menuntut Suci yang lebih baik. Depok punya ekspektasi yang lebih tinggi terhadap Suci yang sekarang. Depok menyediakan waktu yang sepertinya semakin cepat dan sempit ketika sehari saja Suci lupa menikmatinya.

Dan Depok juga, meminta Suci bersabar sedikit lagi.

Selamat datang kembali, Suci.
Selamat bersyukur, berbenah, dan bersabar.

 

 

Advertisements

Berhenti Sejenak

Berhenti Sejenak

Belum satu minggu sejak saya kembali ke London dari libur lebaran kemarin, tapi rasanya sudah lamaaa sekali. Mode mengejar banyak hal pasca liburan dipasang. Waktu rasanya jalan kayak siput. Selama apa pun saya mencoba fokus di depan laptop, saya merasa terus-terusan sedang butuh mencari fokus lain. Di sinilah saya merasa waktu memang sebegitu relatifnya. Sama seperti Depok di  masa kuliah yang selalu menghadirkan atmosfer kerja, sekarang London yang jadi begitu. Dan yap, London sangat mendukung menambah atmosfer itu.

Sejak langkah pertama keluar rumah, kamu harus siap dengan langkah orang-orang yang bergerak serba cepat. Ditambah lagi, jumlahnya banyak. Kemudian, kereta underground yang bergerak cepat menghasilkan suara super bising. Kereta yang padat ditemani suhu kota London di musim panas menambah penat.

Dan, pagi ini jadwal saya bimbingan dengan supervisor tugas akhir saya.

Continue reading “Berhenti Sejenak”

Jeruk Asam atau Kurang Manis?

Tadi siang, adik saya yang paling kecil minta dibuatkan air perasan jeruk. Setelah selesai dibuat, di tegukan pertama dia langsung mengeluh “asem“, kemudian enggan meminumnya lagi. Sayang kalau jadinya mubazir, saya yang sudah nyobain si Jeruk sebelum akhirnya jadi air perasan mencoba berdialog:

Suci: “bukan asem, cuma kurang manis, ya ‘kan? Mau ditambah gula pasir sedikit nggak?”.
Ridho: “asem loh.”
Suci: “nggak, cuma kurang manis.. coba diminum seteguk lagi.”
Ridho: (minum seteguk) “hmm.. nggak manis loh.”
Suci: (melempar senyum)
Ridho: (minum sampai habis) “sudah kuhabisin”
Suci: “mantappp!” (lempar jempol)

***

Jauh sebelum hari ini, saya pernah membuat Sushi yang saya pikir gagal sekali. Saya sedang eksperimen memasak Sushi dengan beras Jepang. Ternyata, si beras jepang ini cara masaknya juga beda dengan beras yang biasa kita makan di Indonesia. Hasilnya gagal karena jadi kekerasan. Nasi Sushi yang keras membuat gulungannya nggak cantik, tambahlah saya nggak PD sama penampakan dan rasanya. Saya pun memutuskan untuk batal menyajikan si sushi. “nanti w makan sendiri aja dicicil ampe besok pagi.”, ujar saya dalam hati.

Sampai…

Continue reading “Jeruk Asam atau Kurang Manis?”

20. Terakhir

Terlepas dari segala ekspektasi dan impresi terhadap apapun yang ditulis di sini dalam 20 hari ini, semoga kita tidak berhenti jadi pembelajar. Maaf atas segala kekurangan..

Selamat menikmati sepuluh malam terakhir Ramadhan..

London, 20 Ramadhan

Suci Fadhilah

11.

“Dan bersabarlah (Muhammad) menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami. Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika engkau bangun. Dan pada sebagian malam bertasbihlah kepada-Nya dan (juga) pada waktu terbenamnya bintang-bintang (pada waktu fajar)” (Q.S. At-Tuur: 48-49)