1. Dear London

1. Dear London

gambar fitur diambil dari: www.internationaltravellermag.com

Kesiapan untuk memilih hanya akan datang pada mereka yang sudah pernah menyelam jauh ke dalam hati. Menjelajahi pertanyaan dan jawaban ke dalam diri sendiri.
– kak Iqbal Hariadi P. di salah satu post Tumblr-nya.

***

Setiap orang punya definisi mereka sendiri soal cinta. Iya, kata absurd itu. Dari ibu, aku belajar bahwa cinta adalah selalu soal kasih sayang yang tidak ada batasnya, kesabaran, pengorbanan, dan kesetiaan. Dari ayah, aku belajar bahwa cinta bukan apa yang dikatakan, tapi apa yang dirasakan oleh hati dan yang tercermin dari perbuatan.

Continue reading “1. Dear London”

Advertisements

Ilmu

Di salah satu buka puasa di rumah, saat kami berlima sedang lengkap berbuka di rumah, termasuk si adik ganteng yang biasanya ada aja jadwal buka puasa di luarnya.

“Ridho, tahu nggak kenapa Ibu bisa duduk di kursi putar ini dengan seimbang dan tidak jatuh?”, tanya ibu pada si adik pintar.

“Hmm, karena ibu bisa ngendaliin kursinya?”, jawab Ridho.

“Iya, ibu bisa duduk di kursi ini dengan seimbang, tanpa terdorong ke depan, atau terjungkal ke belakang, karena ibu tahu ilmunya..”

“Segala sesuatunya itu harus dikendalikan dengan ilmu. Kita bisa melakukan apa saja, tapi, ilmu diperlukan untuk mengendalikannya, agar semuanya ‘pas’, tidak kurang, dan tidak berlebihan.”

*** Continue reading “Ilmu”

Hukum-hukum Tidak Tertulis

“iya buu. Masa begitu.. Kan sediih..”

“Iiih si uni mah aneeeh. Ya jelas lah. Nggak pantes tahuu!”

“Eh, masa sih, bu? Bukannya biasa aja ya? ‘kan nggak ada larangannya.. Nggak aneh kok..”

“Emang uni pernah lihat ada yang pernah seperti itu?”

“Hmm, kayaknya nggak sih..”

“Nah itu!”

***

Sudah hampir 22 tahun. Dan akan semakin banyak hukum-hukum tidak tertulis yang harus Suci mengerti. Teruslah belajar, Suci! 🙂

Ibu

Ibu selalu bilang, kalau Suci itu punya kesempatan yang jauh lebih banyak dari ibu dulu.
Karena itu anak perempuannya jadi ingin beneran melihat dunia, bu.
Jadi suatu hari nanti, cerita kehidupan yang ada jadi lebih banyak lagi bukan?
Wawasannya akan semakin meluas bukan?
Se-“sederhana” itu..

Tapi anak perempuan ibu ini ternyata juga sama, bu.

Karena pada akhirnya ia yakin bahwa urusan “mengubah dunia” itu tidak hanya soal menjadi si manusia penyandang predikat “pe”.

Ternyata…

Lebih ingin menjadi seorang perpanjangan tangan yang berusaha memberikan semaksimal mungkin.
Dengan se-“sederhana” selesai dengan diri sendiri.
Lalu menjadi bukan yang di depan atau di belakang atau tengah, tapi di samping.

“Sederhana” dengan tanda kutip.
Sederhana yang sebenarnya tidak sederhana.

***

Mungkin karena sudah terlalu banyak mendengar cerita para pengubah dunia yang malah disayangkan tidak mampu menjadi pengubah lingkaran terkecil paling berharga yang ada di dekatnya…

Daddy’s Little Girl

Dari dulu, urusan bolak-balik apapun, pasti saya hampir selalu ditemenin ayah. Meski kalau jalan berdua interval ngobrol dan diem-diemannya bisa jauh sekali, ayah is my best buddy buat urusan petualangan apapun. Beberapa minggu ini, bukan yang pertama kalinya sih mengurus urusan birokrasi sendirian. Tapi memang cukup melelahkan karena bukan hanya mengurus di satu tempat dengan kondisi ibu kota Jakarta di weekdays dan lokasi tempat-tempat yang semuanya baru pertama kali saya kunjungi, dan kesemuanya nggak bisa didatangi sekali langsung beres. Sempat sangat khawatir semua tidak bisa selesai tepat pada waktunya. Sampai..

Ya nak, yg sabar semoga urusannya cepat selesai. Uni yang sabar dan jangan sampai stress. Rileks tapi pasti. Untuk meraih sukses itu harus melewati rintangan, tapi pasti ada jalannya. Sayangnya ayah gak bisa bantu urusan uni disana, ayah hanya bisa bayangin betapa sibuknya anak ayah ngurus apa-apa sendiri karena ayah jauh. SUKSES SELALU UNTUK UNI.

– Ayah

Ayah memang selalu jadi yang paling ribet kalau sudah urusan saya mau kemana-mana. “Sama siapa? Berapa lama? Akan nginap dimana?”. Kekakuan memang tak jarang hadir di tengah kami, tapi saya yakin bahwa ayah akan selalu ada buat saya. Ya, sampai kapanpun, I will always be your little girl, dad.. Maaf akan terus merepotkan ayah.. :”

Kata Ibu (Lagi)

Saya pernah merasa begitu tidak pantas, begitu lemahnya.
Sampai rasanya tak sanggup lagi menopangnya.
Sampai rasanya ingin kabur, menghilang, lari, apapun itu untuk menjadi lupa.
Iya, pernah.

Sampai akhirnya ibu bilang bahwa jalan di depan saya itu ada 2, dan saya harus memilih hanya satu di antara keduanya. Saya tidak boleh memilih jalan di tengah keduanya: tidak bisa setengah-setengah, tarik-ulur, ragu, maju-mundur, karena jalan itu tidak pernah layak untuk dipilih.

Akhirnya, hari itu saya memutuskan memilih jalan untuk maju, berdamai.
Karena walaupun tidak pantas, Tuhan memberikan saya waktu untuk memantaskan diri.
Karena walaupun lemah, saya masih ada untuk terus berjuang menjadi kuat.

Hari itu saya tidak memilih kembali mundur ke belakang.
Karena jika begitu, maka saya akan kembali diam dan berbohong.
Karena jika begitu, maka saya akan kembali lari.

Mungkin karena saya belum bisa seperti mereka, orang-orang hebat itu.
Mungkin saya berbeda. Tapi saya juga sama, takut akan sebuah kehilangan.

Saya juga selalu percaya akan batas waktu.
Yang walaupun nanti tidak nyata seperti apa yang saya inginkan..
Ya, karena semua tak lepas dari kuasa-Nya..
Saya pernah ada, meninggalkan kesan yang baik.
Bukan meninggalkan luka, apalagi rasa sakit dan prasangka.

Maju, dengan do’a yang tetap terus dilayangkan.