Belum satu minggu sejak saya kembali ke London dari libur lebaran kemarin, tapi rasanya sudah lamaaa sekali. Mode mengejar banyak hal pasca liburan dipasang. Waktu rasanya jalan kayak siput. Selama apa pun saya mencoba fokus di depan laptop, saya merasa terus-terusan sedang butuh mencari fokus lain. Di sinilah saya merasa waktu memang sebegitu relatifnya. Sama seperti Depok di  masa kuliah yang selalu menghadirkan atmosfer kerja, sekarang London yang jadi begitu. Dan yap, London sangat mendukung menambah atmosfer itu.

Sejak langkah pertama keluar rumah, kamu harus siap dengan langkah orang-orang yang bergerak serba cepat. Ditambah lagi, jumlahnya banyak. Kemudian, kereta underground yang bergerak cepat menghasilkan suara super bising. Kereta yang padat ditemani suhu kota London di musim panas menambah penat.

Dan, pagi ini jadwal saya bimbingan dengan supervisor tugas akhir saya.

Kami janji ketemuan pukul 11.30 pagi tadi. Biasanya beliau sangat punctual, tapi pagi ini berbeda. Saya seperti diberi kesempatan untuk berhenti sejenak sambil menunggu supervisor saya datang. Sekitar 15 menit sambil menunggu, saya ngobrol sama Ibu dan adik paling kecil saya lewat WhatsApp. Ayah saya baru pulang dari dinas luar dan adik saya yang besar sedang di jalan menjemput beliau.  Video pendek tidak lebih dari dua menit adik saya main dengan kucing di rumah saja bisa bikin saya senang sekali pagi tadi :”)

Pertemuan dengan supervisor (yang ternyata jadi pertemuan terakhir itu) pun selesai. Progress yang bisa saya berikan memang tidak mencapai ekspektasi yang saya tentukan sendiri. Tapi mendengar beliau sangat mengapresiasi pekerjaan saya, rasanya tenang sekali.

Saya pun mencoba berjalan perlahan.

Udara London hari ini sedang tidak sepanas biasanya. Akhirnya baru saya sadari saya lebih suka London seperti ini. Saya kemudian duduk di taman sambil makan siang. Hihi, spaghetti buatan Ana jadi terasa enak sekali. Saya perhatikan orang-orang sekitar saya di taman itu. Di kiri saya, ada seorang perempuan yang makan salad sendirian, berganti dengan tiga orang perempuan yang tidak berhenti saling cerita. Di kanan saya, ada seorang ibu membawa anaknya di stroller, diam saja sambil memberikan makan untuk burung-burung. Apa ya, yang mereka pikirkan sekarang? Apa ya, masalah yang sedang mereka hadapi sekarang? Apa ya, hal yang ada di hidupnya yang mereka syukuri sekarang?

Berangkat dari taman, saya pun mencoba berjalan lebih perlahan lagi.

Di tengah perjalanan itu lah saya bertemu satu keluarga yang sedang berjalan bersama. Seorang ayah, Ibu, dan anak perempuan berusia sekitar lima tahunan. Mereka memakan pakaian seragam putih-putih dan bergandengan tangan. Saya berjalan perlahan di belakang mereka. Di tengah jalan, ada pembatas jalan dan si anak meminta diangkat naik oleh orang tuanya ke atas pembatas jalan itu. Ketika sampai di atas pembatas jalan yang cukup tinggi itu, si anak tertawa lepas sekali, diikuti tawa kedua orang tuanya.

Saya pun tersenyum melihat mereka.

Entahlah, rasanya indah sekali.

Terima kasih keluarga berseragam putih…

 

Mungkin, kita memang hanya sedang butuh berhenti sejenak…
Untuk bisa melihat keindahan-keindahan yang tidak bisa dilihat jika kita terus melingkarkan diri kita pada penat.

 

London, 14 Juli 2017
Suci Fadhilah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s