Jeruk Asam atau Kurang Manis?

Tadi siang, adik saya yang paling kecil minta dibuatkan air perasan jeruk. Setelah selesai dibuat, di tegukan pertama dia langsung mengeluh “asem“, kemudian enggan meminumnya lagi. Sayang kalau jadinya mubazir, saya yang sudah nyobain si Jeruk sebelum akhirnya jadi air perasan mencoba berdialog:

Suci: “bukan asem, cuma kurang manis, ya ‘kan? Mau ditambah gula pasir sedikit nggak?”.
Ridho: “asem loh.”
Suci: “nggak, cuma kurang manis.. coba diminum seteguk lagi.”
Ridho: (minum seteguk) “hmm.. nggak manis loh.”
Suci: (melempar senyum)
Ridho: (minum sampai habis) “sudah kuhabisin”
Suci: “mantappp!” (lempar jempol)

***

Jauh sebelum hari ini, saya pernah membuat Sushi yang saya pikir gagal sekali. Saya sedang eksperimen memasak Sushi dengan beras Jepang. Ternyata, si beras jepang ini cara masaknya juga beda dengan beras yang biasa kita makan di Indonesia. Hasilnya gagal karena jadi kekerasan. Nasi Sushi yang keras membuat gulungannya nggak cantik, tambahlah saya nggak PD sama penampakan dan rasanya. Saya pun memutuskan untuk batal menyajikan si sushi. “nanti w makan sendiri aja dicicil ampe besok pagi.”, ujar saya dalam hati.

Sampai…

si penerima sushi kekeuh mau tetap makan sushi buatan saya itu. Sudah susah-susah dibuat katanya. Nanti mubazir katanya. And surprisingly, enak katanya (yakin 100% yang bersangkutan lagi lapar juga jadi semua kerasa enak :”””)). Dan ternyata, terlepas dari bentuknya yang semrawut, iya.. rasanya masih enak untuk dimakan walaupun nggak bisa dibilang lezat sesuai harapan :”)

Alhamdulillah, nggak jadi mubazir. Dan alhamdulillah, cara beliau melihat usaha saya ketimbang hasil tampilan luar sebagai prioritas utama sukses membuat saya mau mencoba untuk melanjutkan eksperimen lagi kapan-kapan dengan si beras Jepang, sampai bisa!

***

Mungkin, apa-apa yang kita hadapi dalam hidup juga sama seperti bagaimana kita melihat si jeruk dan si sushi. Keduanya sebenarnya ‘kan bukannya buruk. Keduanya bukannya tidak bisa dimakan. Hanya persepsi dan prasangka awal kita saja yang keduluan negatif. Yang negatif sebenarnya porsinya sedikit, yang ditinggalkan masa semuanya…

Nggak semua hal akan terlihat “enak/cantik” sejak awal. Tinggal bagaimana kita, mau melihatnya sebagai ‘asem’ atau ‘kurang manis’?
‘asem’ kemudian ditinggalkan, atau
‘kurang manis’ kemudian menambahkan gula ala kita sendiri..

 

Semoga bisa, semoga berani.
Bismillah.
Suci Fadhilah

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s