Show Your Work! – Ayo, Buka Peti Harta Karyamu!

Show Your Work! – Ayo, Buka Peti Harta Karyamu!
Sumber: https://victoriapherrera.files.wordpress.com/2014/04/img_4317.jpg

Show Your Work!
by Austin Kleon

Kamu punya segudang karya yang belum terpublikasikan? Malu karena takut kalau karyamu ternyata tidak cukup layak untuk dilihat orang lain? Sebenarnya ingin agar karyamu bisa bermanfaat buat banyak orang tapi tidak tahu harus mulai dari mana?

Continue reading “Show Your Work! – Ayo, Buka Peti Harta Karyamu!”

Teman Imaji: Tentang Anak Kota Hujan

“Aku suka hujan, tapi nggak suka basah”
“Aku juga suka hujan, tapi nggak suka kehujanan, kecuali kalau sengaja hujan-hujanan”

***

Saat saya sedang menjalani exchange di Malaysia tempo hari, tepatnya di bulan November, adik saya Fitri Hasanah Amhar ngirimin saya lagu ini (dalam versi file .amr):

Kondisinya saat itu saya memang sedang tidak seperti saya biasanya. Saat itu, dia dan saya sama-sama belum tahu ini lagu siapa, bahkan judulnya apa. Dia mengirimkan lagu itu karena maknanya bagus sekali. Dan cukup berhasil membuat saya bangun lagi saat itu.. Saya sudah mencoba mencari siapa yang menyanyikan lagu itu, googling beberapa penggalan liriknya, tapi tak juga ketemu.

***

Di pertengahan bulan Desember, saya membaca review dari Yunus Kuntawiaji dalam tumblr-nya mengenai sebuah novel berjudul Teman Imaji. Terbersit langsung dalam hati saya: Continue reading “Teman Imaji: Tentang Anak Kota Hujan”

Sabtu Bersama Bapak

image

Dua minggu ini saya menyibukkan diri untuk mencoret list-list. Belajar banyak lagi soal berencana dan be strict dengan rencana-rencana itu. Mencoba bijak atas perpisahan. Bersiap-siap soal meninggalkan dan mempersiapkan bekal. Sesekali dituntut melapangkan dada dan merenungi sistem-sistem yang harus segera dibuat lebih baik.
Kemarin, akhirnya saya mencoba menyelipkan buku ini untuk menemani waktu-waktu berdesakan di Kopaja. Ampuh juga untuk menghabiskan waktu dengan lebih berguna ketimbang duduk menunggu.
Walhasil, setelah sekian lama, akhirnya saya kembali dibuat nangis sama sebuah novel, (setelah sebelumnya menahan banjirnya di lobby kemensetneg, akhirnya tumpah juga barusan). Dibawa kembali menyelami labirin-labirin pikiran sendiri dan nggak sabar untuk bisa membuat diri ini jadi lebih baik lagi.
Buku ini highly recommended. Untuk memberi tahu kita bahwa ada pemikiran-pemikiran dan pemahaman yang penting namun kadang terlewat oleh kita. Akan pentingnya mempersiapkan banyak hal. Akan peran seorang ayah, akan betapa keluarga adalah sebuah harta yang sangat berharga.

Kita harus mempersiapkan semuanya dengan sebaik-baiknya…

[REVIEW] Perahu Kertas

Namanya Kugy. Mungil, penghayal, dan berantakan. Dari benaknya, mengalir untaian dongeng indah. Keenan belum pernah bertemu manusia seaneh itu.

Namanya Keenan. Cerdas, artistic, dan penuh kejutan. Dari tangannya, mewujud lukisan-lukisan magis. Kugy belum pernah bertemu manusia seajaib itu.

Dan kini mereka berhadapan di antara hamparan misteri dan rintangan.
Akankan dongeng dan lukisan itu bersatu?
Akankah hati dan impian mereka bertemu?

Kugy, mahasiswi baru jurusan Sastra. Perawakan: Kecil, kaos + jins, lengkap dengan jam tangan kura-kura ninja. Hobi: Tidur siang. Cita-cita: Menjadi Pendongeng. Bersama dua sahabatnya sejak SMA: Noni dan Eko, dia memulai hidupnya di Bandung.

Keenan, mahasiswa baru jurusan manajemen, sepupu Eko yang baru pindah dari Amsterdam. Perawakan: Kurus tinggi, rambut sebahu diikat, lengkap dengan ransel marun berinisial “K”. Cita-cita: Menjadi Pelukis.

Ada kekuatan besar dalam setiap dongeng yang dituliskan Kugy. Dan hanya Keenan yang bisa merasakan itu. Belum pernah ia melukis begitu banyak untuk seseorang yang baru dikenalnya. Dan akhirnya, hanya sebuah buku tulis berisikan dongeng tulisan tangan Kugy, yang bisa membuatnya bertahan untuk terus menghasilkan karya besar dan bernyawa, berkehidupan, yang seakan menyatu dengan dirinya. Sempurna membuat Kugy tak pernah bisa pergi menempati sudut kecil hatinya.

Kugy belum pernah merasa begitu percaya diri. Karena Keenan, ia kembali berani bermimpi. Semakin percaya diri bahwa dongeng adalah dunianya. Karena Keenan, ia menjadi dirinya sendiri. Kugy yakin, setiap dongeng yang dituliskannya dapat terasa semakin hidup karena ilustrasi lukisan Keenan. Keenan sempurna menjadi pangeran baginya, yang selalu dinantikan kehadirannya, walau pada akhirnya tak pernah bisa ia ungkapkan.

Perahu Kertas adalah kisah tentang dua anak manusia yang terobsesi pada suatu hal yang mereka sukai, lalu menancapkan tekad untuk menjadikannya sebagai mimpi yang harus terwujud. Tak peduli seberapa besar penolakan orang sekitar mereka akan mimpi itu, mereka yakin, jika berdua, mereka bisa melahirkan sebuah karya besar, dan membuktikannya kepada semua orang. Mereka nyambung, sejalan, saling memahami.

Tapi sayang mereka tak pernah bisa bicara soal hati. Orang lain yang sudah terlanjur hadir, kebohongan demi rasa ingin memiliki, dan dua orang lain yang sejatinya sangat mencintai mereka dan “nyata” bagi mereka adalah alasan mengapa pada akhirnya kata itu tak pernah terungkap.

Dee sempurna membawakan sebuah kekuatan magis dalam setiap kata yang membawa cerita ini, membuat sehari semalam cukup untuk saya melahap habis novel setebal 444 halaman ini. Tak semua tentang cinta, tapi juga persahabatan sejati, kejujuran terhadap perasaan sendiri, impian yang tak pernah boleh ditanggalkan, dan pentingnya menjadi diri sendiri.

Really recommended.

“Kadang kita harus berputar menjadi seseorang yang bukan kita, demi bisa menjadi diri kita sendiri lagi.”

Dan akhirnya, gw pun memutuskan untuk berdamai dengan semuanya…

Sunset Bersama Rosie: Tentang Sebuah Kesempatan dan Keputusan

Gambar

“Sebenarnya, apakah itu perasaan? Keinginan? Rasa memiliki? Rasa sakit, gelisah, sesak, tidak bisa tidur, kerinduan, kebencian?Bukankan dengan berlalunya waktu, semuanya seperti gelas kosong yang berdebu, begitu-begitu saja, tidak istimewa. Malah lucu serta gemas saat dikenang. Sebenarnya, apakah pengorbanan memiliki harga dan batasan? Atau priceless, tidak terbeli dengan uang, karena kita lakukan hanya untuk sesuatu amat spesial di waktu yang juga spesial? Atau boleh jadi gratis, karena kita lakukan saja, dan selalu menyenangkan untuk dilakukan berkali-kali. Sebenarnya, apakah arti ‘kesempatan’? Apakah itu makna ‘keputusan’? Bagaimana mungkin kita terkadang menyesal karena sebuah ‘keputusan’? atau sepucuk ‘kesempatan’? Sebenarnya, siapakah yang selalu pantas kita sayangi?

        Sebuah paragraf indah berisikan pertanyaan-pertanyaan yang sering terlintas dalam benak setiap individu di atas merupakan paragraf yang mengisi sampul belakang novel karya Tere Liye yang baru saja selesai saya baca, Sunset Bersama Rosie. Novel setebal 426 halaman ini berhasil mengalihkan perhatian saya dari ke-hectic-an tugas di Fasilkom dan kegiatan luar akademis. Dan secara magis pula berhasil membuat air mata saya deras mengalir tepat di halaman terakhir novel ini, sama seperti saat dulu saya membaca novel Hafalan Sholat Delisa yang juga ditulis oleh Tere-Liye.

Novel ini diceritakan dari sisi seorang Tegar, pemuda sukses yang hampir sempurna kehidupannya dengan karir gemilang di sebuah perusahaan sekuritas besar di Jakarta. Namun sayang, tak serupa dengan cinta yang terus dipendamnya selama puluhan tahun. Ia mencintai Rosie, gadis teman sejak kecilnya. Tegar telah menyiapkan momen yang tepat untuk menyatakan perasaan yang telah dipendamnya selama dua puluh tahun kepada Rosie, di puncak gunung Rinjani. Sayang, Nathan, pria yang baru dikenalkannya kepada Rosie 2 bulan sebelumnya telah terlebih dulu menyatakan perasaan kepada Rosie, dan Rosie pun menerimanya, menerima Nathan untuk menjadi pasangan hidupnya.

Tegar yang depresi meninggalkan mereka berdua, dan kemudian menghilang. Namun Tegar kemudian berdamai kepada cinta besar yang sudah lama mengikatnya sejak kehadiran Nathan dan Rosie, bersama dua buah hati mereka, Anggrek dan Sakura ke apartemennya lima tahun kemudian. Bahkan setelah Jasmine dan Lili lahir, sempurna sudah Tegar menjadi sosok Om, Paman, dan Uncle yang super dan keren bagi keempat anak Rosie dan Nathan. Dan Tegar telah menjadi sahabat keluarga ini, sahabat terbaik, yang bahkan rela menunda janji kehidupan yang diberikannya kepada gadis yang amat mencintainya, Sekar, sejak peristiwa naas itu terjadi.

Dan dari titik itulah, kisah ini dimulai…

Tere-Liye seperti biasa, berhasil mempermainkan emosi pembaca pada setiap untaian kata yang disusunnya. Meski alur cerita novel ini bisa dibilang lambat, pembaca dibawa untuk memahami setiap rasa dan pikiran Tegar, ikut hanyut dalam penderitaan dan siksa akan cintanya yang amat besar pada Rosie dan keempat anaknya, ikut mencoba memaknai apa itu “pengertian dan pemahaman cinta yang berbeda”, serta ikut mengerti apa itu pengorbanan dan keikhlasan…

Sebuah novel yang sangat recommended untuk dibaca. Dan siap-siap untuk galau, bertanya-tanya, atau mungkin terbimbing menuju kamar ‘pemahaman baru’, setelahnya. 😀

Selamat membaca!

Dan pada akhirnya, kesempatan, keputusan, semua bermuara pada satu kata: TAKDIR…

Depok, 19 Maret 2012
*Makasih buat yang udah minjemin novel ini ke gw. 😀

AKATSUKI: And The Dawn Was Rising

Author : Miyazaki Ichigo
Publisher : Mizania, Bandung
Number of Page : 304 pages
Date of Publishing : October 2009
Prize : Rp. 35.700,-

Anybody who is looking this book for the first time must be suspect that it is a Japanese novel and has been translated to Bahasa. You don’t need to worry because I also thought it is. But, actually it’s not. Miyazaki Ichigo is a Pen Name of Muliyatun, the newcomer of author from Bandung whose interest in Japanese culture. She tried to serve a romantic love story, not only covered by Japanese culture and society, but also full values of Islam.

The story focused on an Orphan Japanese girl, Mayumi. She was adopted by Nakano’s family and lived as a normal teenager with her step-parents and also a brother named Shun. In High school, she got a lot of friends. But, there was a boy who always made her felt curious, Kagawa Satoshi. Satoshi was disappeared every lunch time. He also didn’t get any respect to the girls. Satoshi was very popular because of his kindness and smartness, but always kept silent.

Mayumi’s life was going perfectly until unexpectedly confession from Shun and her meeting with Henry, a Shun’s friend from UK. Suddenly Shun was change and then Mayumi was chased away from Nakano’s family. The quest to find her true family and identity were started. Till her found that way, way of the brightest dawn…

How would Mayumi’s life run after that? How could she find and solve her hesitates? Could she find a way to heal all of her pain in her heart? Who was a mysterious boy, Kagawa Satoshi’s true face? What did Satoshi mean for Mayumi? Who was Henry? You can easily find the answers only by read this novel.

This novel is amazing. Cultures and places in Japan are explained very well and descriptively. Completed with anime-soundtrack lyrics in some parts to add more total comprehension in plot and conflict happened. True love discovery of Mayumi is also storied romantically without step over the limit of Islam’s norm. I think this novel is very good to be read by teenagers in this time. So that they will know that love with struggling and parallel to Islam’s way will give more beautiful ending, not as Love which usually wrong in its expression of. But, maybe the easy-predictable plot will little bit bother you. However, it won’t make you want to stop and feel regret to read this novel.

“boku yori mo, boku no koto wo umaku ai seru no wa, kimi ni shika inain datte, wakatte…”-I realize that the only one who can loves me more than my self is you...

Suci Fadhilah_XII NS 2_3200017

Einstein’s Dream, Sebuah filosofi Sang Waktu

Einstein’s Dreams – Alan Lightman (1999)

Entah sudah sejak kapan saya mengagumi sosok seorang fisikawan jenius, Albert Einstein. Mungkin bahkan sejak saya masih sama sekali belum mengetahui apa makna dibalik E = mc^2 dan teori relativitas yang telah melambungkan namanya. Dan ketika akhirnya saya bersua dengan materi fisika atom dan relativitas di kelas XII, saya kembali teringat akan sebuah buku yang saya baca ketika duduk di kelas XI, MIMPI-MIMPI EINSTEIN.

Buku ini berisi pemikiran-pemikiran provokatif seorang fisikawan lulusan California Institute of Technology yang kini menjadi dosen fisika di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Alan Lightman. Beliau menulis buku ini dengan berusaha memasuki alam pikiran seorang jenius pencipta teori relativitas, Albert Einstein.

Berikut beberapa pemikiran yang saya kutip:

Waktu berbentuk lingkaran. orang-orang di dalamnya tak henti mengulang takdirnya tanpa perubahan sedikitpun setiap harinya.

Waktu memiliki tiga dimensi, seperti ruang. Dan karena satu benda bisa bergerak tegak lurus ke tiga arah, horisontal, vertikal, dan membujur, maka sebuah benda dapat berada dalam tiga masa depan yang tegak lurus. Setiap masa depan bergerak dalam arah waktu yang berbeda. Setiap masa depan adalah nyata. Apa pun keputusan yang diambil, dunia terbelah menjadi tiga, masing-masing dengan orang-orang yang sama tetapi dengan takdir yang berbeda. Dalam waktu, terdapat ketidakterbatasan dunia.

Di dunia ini ada dua jenis waktu, Waktu mekanis dan waktu tubuh. Ketika dua waktu bertemu, yang terjadi adalah keputusasaan. Ketika dua waktu menuju arah yang berbeda, hasilnya adalah kebahagiaan. Karena itulah, semua orang dapat menghendaki satu dunia, tidak keduanya. Tiap waktu adalah benar, tetapi kebenaran itu tidak selalu sama.

Waktu adalah hubungan sebab-akibat.

Bila waktu dan perjalanan peristiwa sama, waktu bergerak lambat sekali. Bila tidak demikian, maka orang-oranglah yang nyaris tidak bergerak. Jika orang tidak memiliki ambisi di dunia seperti ini, ia tidak menyadari kalau ia menderita. Jika berambisi, ia tahu bahwa ia menderita, tetapi penderitaan itu berlangsung sangat lambat.

-Tubuh bukanlah suatu kewajiban, melainkan suatu kumpulan bahan kimia, jaringan, dan impuls saraf. Pikiran tak lebih dari gelombang listrik dalam otak. Rangsangan tak lebih dari asam ynag menusuk otak kecil, Pendeknya, tubuh adalah mesin. Tunduk pada hukum listrik dan mekanika sebagaimana elektron dan jam. Karena itulah, tubuh harus disapa dengan bahasa ilmu fisika. Jika tubuh sedang berbicara, ia melulu bicara tentang beberapa tuas dan tekanan. Tubuh adalah sesuatu untuk diperintah, bukan dipatuhi.

Di dunia dengan masa silam yang berubah, kenangan bagai butiran gandum yang tersapu angin, seperti mimpi-mimpi singkat, seperti bentuk-bentuk awan. Peristiwa, sekali terjadi, kehilangan realitas, berganti hanya dalam satu lirikan, satu badai, satu malam. Begitulah, masa silam tak pernah terjadi. Siapa yang dapat mengetahui?

-Di dunia seperti ini, ketika masa depan adalah kepastian, tak ada salah atau benar. Salah atau benar mensyaratkan adanya kebebasan dalam memilih tak mungkin lagi ada. Di dunia ketika masa depan telah pasti, tak seorang pun terbebani tanggung jawab. Ruang-ruang telah diatur sebelumnya.

Waktu seperi cahaya di antara dua cermin. Memantul ke depan dan ke belakan, menghasilkan bayangan, melodi, pikiran dalam jumlah yang tak terhingga. Inilah dunia penggandaan yang tak terbatas.

Butuh waktu cukup lama untuk saya memahami pemikiran-pemikiran yang sangat filosofis dalam buku ini. Membacanya mungkin akan menimbulkan banyak pertanyaan di pikiran kita atau mungkin malah menciptakan sebuah pemikiran baru tentang waktu yang sangat misterius itu? Yap, temukan saja jawabannya. Selamat membaca. 🙂