Ups and Downs with Flipped Classroom (Prolog)

Ups and Downs with Flipped Classroom (Prolog)

Iya, di sini saya belajar dengan metode flipped classroom. Kalau ada yang belum tahu, flipped classroom adalah sebuah metode pembelajaran yang mem-’flip’/membalik aktivitas pertemuan langsung antara pengajar-pembelajar dan aktivitas saat di rumah. Jika biasanya materi di sampaikan penuh di kelas dan PR/tugas dibawa dan dikerjakan di rumah, dalam flipped classroom, yang terjadi adalah sebaliknya: materi akan secara penuh disampaikan dan diberikan di luar kelas (jika memanfaatkan teknologi digital, maka biasanya materi akan diberikan secara online di suatu learning management system) sedangkan pertemuan di kelas akan lebih banyak aktivitas diskusi kelompok, latihan, dan quick review/penjelasan suatu materi yang terasa paling banyak issue-nya/sulit.  Continue reading “Ups and Downs with Flipped Classroom (Prolog)”

Study Abroad Series #2: Menjadi Penerima Beasiswa

Study Abroad Series #2: Menjadi Penerima Beasiswa

“Widih, enak banget anak beasiswa, banyak uang dong berarti.”
“Ah, anak LPDP mah uangnya banyak..”

Sebelum membahas kelanjutan postingan seri 1 ke hal-hal teknis terkait seleksi, saya ingin sekali menulis ini: soal apa sebenarnya arti dari menjadi seorang penerima beasiswa.

Saya adalah seorang penerima beasiswa sejak SMP. Alhamdulillah, orang tua saya tidak pernah ‘ngoyo’ meminta saya untuk menjadi ranking 1 ataupun mencari beasiswa. “Bagaimana pun kondisinya, rezeki anak itu ada sendiri, un.”, kata ibu. Saya lah yang sejak mengerti beasiswa selalu kekeuh, sok gaya sebagai anak pertama yang pokoknya maunya ayah dan ibu nggak usah pusing mikirin uang sekolah saya.

Lalu, enak nggak sih jadi penerima beasiswa? 

In general, absolutely YES! 🙂 Continue reading “Study Abroad Series #2: Menjadi Penerima Beasiswa”

Belajar

“Belajarlah untuk mengerti sesuatu. Bukan untuk tampak bagus di hadapan orang lain”
~katanya

Belajarlah untuk mengerti, untuk paham, untuk jadi bisa. Untuk nanti bergaul, mencari pengalaman, menulis thesis dan paper, membaca cerita-cerita menarik, untuk menjadi pendengar yang baik. Dan, untuk bisa belajar lagi dan lagi.

Bukan untuk sekadar lulus tes atau dapat skor tinggi.

Camkan itu Suci. Lamat-lamat.

[COZORA] Membuat CV yang Outstanding by Riza Herzego Nida Fathan

[COZORA] Membuat CV yang Outstanding by Riza Herzego Nida Fathan

Hai! Kembali lagi cerita soal COZORA ya 🙂
Masih ingat ‘kan kalau UIAC dan COZORA membuat sebuah kelas online berjudul “Menjadi Mahasiswa Berprestasi”? Kalau lupa, silakan baca ladi di sini ya 🙂

Banyak eksperimen yang dilakukan dalam perjalanan adanya kelas online ini. Salah satunya adalah mengadakan sesi Ask Me Anything (AMA). Di sesi Ask Me Anything ini, UIAC dan COZORA mengundang para Mapres untuk menjadi narasumber yang bisa ditanya-tanyain soal apapun gitu di forum diskusi Cozora. (menarik nggak? hehe)

Sejauh ini, sudah diadakan dua sesi AMA, sesi pertama diadakan pada Kamis, 12 November 2015 lalu dengan narasumber Putri Ardila Mounda (Mapres 3 FMIPA UI 2015). Sesi kedua diadakan pada Selasa, 17 November 2015 lalu dengan narasumber Evi Nurhidayati (Mapres 2 FKM UI 2015). Walau sudah ditutup, kalau teman-teman tertarik untuk ikut bertanya dan bergabung di diskusi kedua sesi AMA tersebut, masih bisa mengajukan pertanyaan kok. Silakan ke sini untuk sesi AMA Mounda, dan ke sini untuk sesi AMA Evi ya 🙂 Semoga bisa bermanfaat dengan bisa baca-baca juga hasil diskusinya ya 😀

Nah, sesi paling baru yang diadakan kemarin adalah sesi khusus yang dilakukan oleh tim COZORA yang isinya nggak cuma buat mapres nih, yaitu sesi “Membuat CV yang Outstanding” dengan narasumber Riza Herzego Nida Fathan (Zego), Mapres 2 Fasilkom UI 2015. Sesi khusus (yang dilakukan pada 22 November  2015 lalu) ini dilakukan dalam sebuah forum diskusi real time (menarik ‘kan?). Nah, supaya hasil diskusinya bisa tetap bermanfaat luas, berikut saya tuliskan notulensi diskusi semalam ya 😀

*** Continue reading “[COZORA] Membuat CV yang Outstanding by Riza Herzego Nida Fathan”

[Updated] UIAC X COZORA: Menjadi Mahasiswa Berprestasi

[Updated] UIAC X COZORA: Menjadi Mahasiswa Berprestasi

Mengikuti kompetisi Mahasiswa Berprestasi tadinya sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiran saya. Pun tidak pernah ada dalam daftar 100 mimpi yang dibuat sesaat sebelum perkuliahan semester 1 dimulai. Pun tidak pernah ada juga dalam peta hidup yang pernah saya rancang.

“Jadi Mapres itu kayak jadi Toa, Suc. Saat kamu melakukan kebaikan, sekecil apapun, kebaikan itu akan lebih terdengar (karena efek Toa tadi). Dan, membahagiakan orang tua dengan melakukan sesuatu yang baik itu juga penting ‘kan?”

“Yang penting bukan soal jadi lebih baik dari orang lain, ci. Tapi untuk jadi lebih baik dari diri kita yang kemarin ..”

Sanking galaunya ikut-tidak ikut, saya bertanya ke sangat banyak orang. Soal ekspektasi terhadap seorang Mapres, kenapa Mapres, setelah menjadi Mapres apa, dan lain sebagainya. Continue reading “[Updated] UIAC X COZORA: Menjadi Mahasiswa Berprestasi”

Lebih Suka

Jari jemarinya mengetikkan banyak hal.

Setelah ini, apa ya?
Ah, tapi ini saja belum selesai

***

Ketika berkumpul dan berbincang ramai, mereka sekarang sudah mulai hitung-hitungan gaji.
Kalo sekian, sekiannya ditabung, sekiannya bisa untuk ini, sekiannya bisa untuk itu.

Ah, iya ya. Hidup setelah ini bukan lagi soal atur mengatur uang beasiswa ya?

Tapi, dibanding duduk di cubicle 9-17
Anaknya masih lebih suka duduk di bangku-bangku depan papan tulis.

Menyenangkan bukan? Mencatat dan mencoret-coret kertas kosong. Mengerti tidak mengerti, toh nanti bisa diulang kembali.

Tapi, dibanding membayangkan pergi ke job fair.
Anaknya masih lebih suka datang ke education fair.

Menyenangkan bukan? Mengumpulkan satu dua prospectus bergambar tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi. Walau tak tahu nanti akan dibuka lagi atau tidak.

Dibandingkan hitung-hitungan weight benefit antar satu perusahaan dengan perusahaan lain
Anaknya masih lebih suka berselancar dari satu website ke website lain, mengetikkan keyword jurusan ini dan itu

Ah, tapi dunia kerja tidak sekaku itu kok.

***

Dulu, saya juga hanya mempersiapkan diri saya untuk jadi perempuan yang seperti ibu kamu mau itu. Tapi ternyata, Allah memberikan tugas pada saya. Jadi jangan takut. Sebagai perempuan, tentu kamu sudah punya fitrahmu sendiri. Tapi soal tugas kamu lahir di dunia ini, Allah sudah tentukan. Jangan khawatir. Jalani semuanya semaksimal yang kamu bisa. Tetap semangat.

– Bu Kasiyah.

Ya, seperti yang pernah Sheryl Sandberg ceritakan dalam Lean In. Di tingkatan apapun dalam workforce, kontribusi seorang perempuan tetap dibutuhkan. Iya, bekerja di manapun bukan hanya soal duduk diam mengerjakan apa yang menjadi kewajiban kita.

***

Antara mimpi-mimpi dan keinginan-keinginan ‘sederhana’ yang pernah dituliskan dan dilayangkan dalam do’a, ridho orang tua, visi, dan kontribusi.

Ayo kita keliling dunia. Ke antartika. Ke luar angkasa.
Agar lebih banyak lagi yang bisa diceritakan.
Agar lebih banyak lagi pemahaman yang baik yang bertumbuh.

Bismillah, semoga ini yang terbaik.