Bagi saya, dakwah itu tanggung jawabnya super berat. Jadilah dulu setiap bahas soal yang bertemakan dakwah di lingkaran mentoring suka kabur-kaburan. Takut euy. Apalah masih jauh dari sempurna begini. Masih begini dan begitu. Merasa belum kaffah. Masih nggak sanggup soal ini itu. Pemahamannya masih belum seluruhnya baik. Masih suka pake celana panjang (loh?). Masih jelas pokoknya (merasa) belum layak untuk jadi yang ada di tengah dalam suatu lingkaran ilmu.  Catatan rutin #onedayoneayat ini juga dibuat bukan untuk siapa-siapa melainkan untuk diri sendiri dalam upaya PDKT lagi sama Al-Qur’an.

Di London, dakwah Islam terasa kencang sekali. Para penggiat dakwah Islam di sini berupaya untuk bisa menjadi se-inklusif mungkin dengan teman-teman yang non-Muslim. Mulai dari acara-acara Islamic Community kampus yang melibatkan teman-teman dari berbagai agama, inclusive ifthar (buka puasa yang mengundang masyarakat dari berbagai agama), charity besar-besar-an yang panitianya juga dari berbagai agama, dsb. Acara-acaranya juga disajikan dengan konsep yang seru dan keren. Pokoknya, super salut. Sampai-sampai nih, ada sebuah dakwaa stall di dekat stasiun dekat rumah saya, namanya Wood Green dakwaa stall.

Wood Green dakwaa stall adalah semacam stand terbuka yang menyediakan banyak sumber pembelajaran Islam dan membagikannya secara gratis ke siapa pun yang datang. Sebenarnya udah sering lewat stall ini, tapi baru memberanikan diri menghampiri setelah dengar Rinda (salah satu housemate saya) habis dari sana. Tadinya saya cuma mau ambil buku 40 hadits-nya saja. Tapi si Bapak penjaga stall-nya semangat sekali ngasih saya macam-macam.

Cara berdakwah yang cukup sederhana menurut saya. Buku-buku yang diberikan juga sebenarnya hanya berupa booklet yang super ringkas untuk mengenalkan Islam. Ohya, mereka membagikan Al-Qur’an secara gratis juga.

Dulu waktu masih di MAN, ingat pernah belajar bahwa Dakwah berarti ‘menyeru’, nggak selamanya harus berupa ceramah, mentoring, atau bentuk-bentuk dakwah terang-terangan seperti ustadz-ustadz. Bahkan, kita diajarkan bahwa dengan berprestasi saja sudah termasuk dakwah, karena kita membawa nama Islam, kita tunjukkan bahwa Muslim itu keren dan berprestasi. Dan sebenarnya setiap Muslim itu punya kewajiban untuk berdakwah atau menyeru kepada kebaikan. Ingat Amar Ma’ruf Nahi Mungkar kan ya? Menyeru kepada yang baik dan mencegah yang mungkar.

“Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar.”
(Q.S. Ali ‘Imran: 110)

Sebaik-baik umat di sini katanya ditujukan kepada kita, sebagai kaum Muslim.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(Q. S. Ali ‘Imran: 104)

Dan dijanjikan bahwa mereka yang menyeru pada kebaikan adalah orang-orang yang beruntung.

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemunkaran, maka hendaklah ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu lakukanlah dengan lisannya, dan jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.”
(H.R. Muslim)

Nah, yang ini perintah untuk membuat perubahan. Gaul ya, bahkan dari dulu Muslim itu sudah didorong untuk menjadi changemakers.

Jadi, berdakwah bisa via apa saja, sesuai dengan kapasitas diri. Tidak harus nunggu diri ini sempurna (karena nggak akan pernah), yang penting orientasinya mengajak pada kebaikan. Kalau biasa melakukan satu kebaikan, maka seru satu kebaikan itu. Kalau ada dua, seru dua. Dan seterusnya. Siapa gitu pernah bilang ‘biar nggak sendirian ke surganya…’. Siapa saja boleh menyeru pada kebaikan. Siapa saja harus saling mengajak kepada kebaikan. Sesederhana mengingatkan sholat, mengingat Allah, membalas salam, dan sebagainya.

Tapi, jangan lupa juga:

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
(Q.S. As-Shaff: 2-3)

Menyeru kebaikan harus dimulai ke diri sendiri juga. Harus direpresentasikan dengan perbuatan. Kita nggak bisa menyeru orang-orang makan makanan halal kalau kitanya sendiri tidak. Tidak bisa menyeru untuk bersedekah kalau kitanya sendiri tidak. Sadar banget bahwa kadang karena nila setitik kadang seseorang bisa sudah langsung hancur kebaikan-kebaikan lainnya dan boro-boro berharap bisa menyeru kepada kebaikan lainnya :”)

Semoga masih diberikan kapasitas dan kesempatan untuk menyeru pada kebaikan  (apa pun bentuknya) di atas segala kekurangan diri (yang jelas sekali) ini. Aamiin :”)

London, 14 Ramadhan
Suci Fadhilah
#onedayoneayat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s