6. Tentang Bersyukur (lagi)

Ramadhan di London itu perlu dihadirkan. Walau nggak ada acara TV meramaikan waktu sahur, iklan sirup di mana-mana, takjil berbuka yang tinggal beli di jalan depan rumah apalagi ucapan yang manggil-manggil nama saya (‘selamat datang bulan Suci Ramadhan’ :p), buat saya, nggak disangka-sangka ternyata pergi taraweh ke Masjid dekat rumah berhasil memunculkan suasana Ramadhan itu.

Mungkin perasaan tersebut tidak hanya saya yang rasakan. Masjid di sini ramai sekali. Orang-orang bahkan membawakan banyak makanan untuk yang sholat. Ada volunteer-nya juga yang mengatur barisan. Orang-orang juga pada cantik-cantik dan berhias untuk datang ke masjid. Dan yang paling menyita perhatian saya adalah… banyaknya orang yang sebenarnya punya keterbatasan tapi tetap bela-belain datang ke masjid untuk sholat…

Tidak sedikit orang-orang yang sholat dengan duduk di kursi hadir di masjid kami. Bayangkan, mereka adalah orang-orang yang bahkan untuk berdiri saja sudah sulit, tapi masih mau datang ke masjid. Ibu-ibu, bahkan lansia. Difasilitasi juga dengan baik oleh para volunteer masjid.

Suci Fadhilah, dua puluh tiga tahun, masih muda belia, kakinya masih berfungsi dengan sangat baik, di awal Ramadhan masih cuma menargetkan ke Masjid seminggu sekali saja. ckckckck.

Baru saja tadi, terbersit di hati:

“Akan sampai kah waktunya nanti, sampai aku jadi seperti mereka? Sholat lima waktu harus duduk di kursi…?”

Kemudian langsung merinding rasanya.
Jangan sampai menunggu kaki sudah sulit berdiri baru terasa nikmat Allah yang satu ini.

Lagi-lagi, nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?

“Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai kurnia yang besar (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya).”
(Q.S. An-Naml:73)

Kemudian malam ini, tepat sekali, saya juga menonton video seorang Hafidz cilik yang tidak sempurna kakinya yang di-share Zego di timeline Facebooknya..

Tonton deh…

Ah, Allah…

Sungguh nikmat-Mu sebenarnya begitu banyak. Kami saja manusia yang lebih gemar melihat luka segores ketimbang banyak nikmat yang sebenarnya mengalir setiap hari pada diri kami.

Alhamdulillah,
– I have two healthy feet to walk to Masjid
– I have two eyes to see the gorgeous beautiful moon and London sky
– I have two ears to listen Imam reciting Qur’an
– I have a safe house to sleep tonight
– I have clean water to drink and take wudhu

I love my Allah.

London, 6 Ramadhan
Suci Fadhilah
#onedayoneayat


PS: Awalnya, saya berniat hanya satu minggu sekali saja lah taraweh ke masjidnya (ini aja dijadiin target Ramadhan sanking di awal nggak niat sering-sering ke masjid #eh #ups #astaghfirullah). Eh, beruntung selalu diajakin Kak Pepo (salah satu kakak di rumah saya), sendirinya jadi ketagihan. Karena rasanya, kok suasana Ramadhan jadi berkurang sekali kalau nggak ke masjid. Kemana lagi harus dicari suasana ini? ((Kalau siang ke mana-mana ya nggak ada suasana Ramadhan sama sekali soalnya)). Apalagi, jarak dari rumah ke masjid hanya sekitar 10 menit. Bisa sambil bakar kalori habis berbuka lihat indahnya langit malam London pula. Kata Ayah asal ada temannya boleh ke Masjid. Jadi yasudah hayuk bismillah… Terima kasih teman-teman Perumahan Wood Green Indah, semoga kita istiqamah ❤

PPS: Maaf ya, ayat Qur’an-nya diartikan campur bahasa Inggris dan bahasa Indonesia di setiap pos. Sesuai suasana hati…….

Advertisements

5 thoughts on “6. Tentang Bersyukur (lagi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s