1. Menjadi Lebih Baik

My supervisor is a very great thinker. I find it is very hard to please and convince her, even when I felt that I have been very critical about something. 

Salah satunya, ketika kami membahas penyusunan kuesioner. Kami berdebat mengenai sebuah pertanyaan yang ingin saya ajukan dalam kuesiner untuk mengetahui preferensi pengguna terhadap sistem pembelajaran pilihannya. Saya mengusulkan pertanyaan: “how do you find system X better in helping you learn?”. Supervisor saya kemudian mempertanyakan “better? better than what?” karena menurutnya, ‘better‘ adalah sebuah kata yang menggambarkan sebuah hasil dari proses comparison/perbandingan. Ketika bicara sistem, maka ini adalah tentang lebih baik dari sistem lainnya, setelah pengguna melakukan banyak proses perbandingan dan pemilihan.

“And if better, better in what way? is it better in user experience? is it better in the time used? the course structure? the social presence? what aspect?”
“Hmm, better in general. So that it can make they prefer and choose it”
“No, you can’t ask someone to compare in such a very general question.”
“why can’t I?”
“Let’s see, what kind of answer you find to get from that question?”
“A very general answer, it can be anything…”
“No, it will make really hard for you to find the reliable answer, then. Determine something that you can measureBe specific so that their preferences are reasonable and critical.

***

Coba kita bawa perbincangan saya dan supervisor saya ini ke dalam konteks pribadi manusia. Ketika Ramadhan menjelang, tentu banyak sekali yang bilang bahwa ia ingin menjadi lebih baik dan juga mendoakan semoga kita semua bisa menjadi lebih baik di bulan Ramadhan ini.

Mari kita bertanya: maka, lebih baik dari apa? 

Apakah lebih baik dari orang lain?

Jika memang menjadi lebih baik dari orang lain, maka lebih baik dalam hal apa?

Jika bicara soal ingin jadi lebih cantik. Ah, ketika kita buka Instagram, akan ada saja yang lebih cantik, apalagi dengan berbagai teknologi beautifying system kamera-kamera canggih. Foto dengan berbagai gaya, semua tampak mulus, putih, tinggi, langsing, dan berbagai kriteria cantik seorang perempuan bisa miliki. Terlepas dari berbagai macam teknik filter dan lamanya waktu serta usaha pengambilan foto yang dilakukan si pemilik akun.

Jika bicara soal ingin jadi lebih hebat. Ah, ketika kita buka Facebook, akan ada saja orang-orang hebat yang mengunggah pencapaian hidupnya. Foto wisuda tambahan gelar barunya, check-in di kota baru di luar negeri, pekerjaan baru di perusahaan multi nasional, lalu apa lagi? Terlepas dari seberapa banyak kegagalan dan jatuh bangun yang sebenarnya pernah mereka lalui tapi tidak ditunjukkan saja.

Bicara soal apa lagi? Lebih kaya, lebih sukses, lebih populer, lebih terkenal? Sekarang semuanya bisa begitu nampak dengan ukuran likes, loves, follows dan apa pun itu yang sebenarnya orang-orang lakukan hanya dengan sepersekian detik action click.

Tapi, apakah kita yakin bahwa menjadi lebih baik yang seperti itu yang kita inginkan? Rasanya.. jika menjadikan orang lain sebagai pembanding, sepertinya kita tidak akan pernah berhasil. Karena akan ada saja selalu orang yang lebih baik dari diri ini, di aspek apapun. Karena bagaimana pun kita bisa melihat hidup orang lain, yang bisa kita lihat hanya apa yang ditampilkan. Karena pada akhirnya, jika kita tahu keseluruhan hidupnya, mungkin kita sendiri tidak akan pernah mau menginginkan hidupnya.

And do not wish for that by which Allah has made some of you exceed others. For men is a share of what they have earned, and for women is a share of what they have earned. And ask Allah of his bounty. Indeed Allah is ever, of all things, Knowing.
(Q.S. An-Nisa: 32)

Bagaimana jika bukan menjadi lebih baik dari orang lain?
Bagaimana jika.. menjadi lebih baik dari diri kita yang sebelumnya?

Karena kita adalah yang paling tahu tentang diri kita. Kita yang paling bisa mengukur apakah kita sudah menjadi yang lebih baik dari diri kita sebelumnya atau belum. Sepakat?

Lalu, pertanyaannya masih berlanjut.

Lebih baik dalam hal apa? Aspek apa saja yang mau kita jadikan lebih baik dari sebelumnya? Ibadahnya, manajemen waktunya, perawatan dirinya kah?

Yosh, mari kita catat. Mari kita rencanakan sama-sama. Mari saling membantu mengingatkan.

Indeed, Allah will not change the condition of a people until they change what is in themselves. And when Allah intends for a people ill, there is no repelling it. And there is not for them besides Him any patron.
(Q.S. Ar-Ra’d: 11)

Selamat menyambut Ramadhan. Selamat merealisasikan keinginan menjadi lebih baik dalam hal sebenar-benarnya. Selamat membuat kriteria lebih baik dalam aspek yang paling dirasa dibutuhkan. Selamat menciptakan target-target yang SMART–Specific, Measurable, Achievable, Realistic, dan Timebond. Bismillah.

London, 1 Ramadhan (27 Mei 2017)
Suci Fadhilah
#onedayoneayat

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s