The Centre of Your Concern

Semakin bertambah usia, saya belajar bahwa sebagai perempuan dewasa, ada satu skill yang sangat penting untuk dimiliki: dealing with questions.

Waktu masih muda dulu (sekarang juga masih muda padahal), pertanyaan-pertanyaan seperti: habis ini mau lanjut ke SMP mana, SMA mana, jurusan apa, IPKnya berapa, kapan lulus, sudah sampai bab berapa; memang sudah terasa berat di masanya untuk kita. Tapi saat itu, pertanyaan-pertanyaan tersebut masih terpusat pada diri kita sendiri sebagai individu secara umum, semua orang seusia kita menghadapinya secara seragam, dan kita juga masih ada kedua orang tua kita yang akan memihak dan membantu kita.

Sejak memasuki universitas kehidupan yang sebenarnya pasca masa persekolahan, perempuan-perempuan akan menghadapi lebih banyak lagi pertanyaan yang terpusat pada dirinya sebagai seorang perempuan. Yang membahagiakan bagi kedua orang tuanya mungkin sudah bukan lagi soal karir bagus, lomba/penghargaan internasional, atau rentetan prestasi yang bisa ditulis di CV lagi.

“In our society, success for men is positive whereas for women is negative.” – Sheryl Sandberg, Lean In.

Pada setiap stage pertanyaan-pertanyaan itu, dari beberapa cerita orang, ada saja tuduhan yang judgemental kepada perempuan. Yang sudah asyik sama dirinya sendiri jadi lupa nikah, yang nggak ‘produktif’, yang nggak pedulian, yang liberal, yang nggak becus jadi ibu, dan sebagainya..

Padahal pada setiap pertanyaan itu, pasti ada sudut hati yang terluka, walau ukurannya pasti berbeda-beda pada setiap orang. Karena tanpa orang lain yang bilang, hati kecil seorang perempuan sudah akan cenderung menyudutkan dan menyalahkan dirinya sendiri…

***

Tadi sore, saya mengikuti sebuah seminar dari Yasmin Mogahed. Dari seluruh materi yang beliau sampaikan tadi, ada satu yang sangat related dengan masalah pertanyaan-pertanyaan ini.

“Worshiping is making something a centre of your concern. When you are worshiping Allah, then Allah should be the centre of your concern. What you’re doing is because of Allah and for Allah’s sake.

Then, if you are taking too much concern about how people gonna ask/say about you, until without realising that it has been in the centre of your main concern, what are you worshiping then?” – Yasmin Mogahed

She’s right. Sebagai perempuan (muslimah), kita nggak pernah boleh lupa bahwa apa yang kita lakukan adalah yang utama harus karena Allah.

Teorinya mudah diucapkan, tapi luaaar biasa sulit implementasinya.
Tapi paling tidak setelah mendengar ini, harusnya pertanyaan-pertanyaan di setiap stage kehidupan ini bisa berkurang sedikit demi sedikit bebannya. Mari berbaik sangka pada Allah. Mari berjuang dalam kapasitas kita masing-masing.

I did my best in my part.
I asked Allah for things He thinks are the best for me.
Then, let Sabr and Syukr are always in the top of your heart.
~ Suci

Sebuah catatan kecil dari seminar tadi sore.
Ditulis supaya sendirinya tidak lupa sampai jadi nenek-nenek nanti.
Semoga bermanfaat juga bagi yang membaca.

London, 18 May 2017, 00:26am

And yes, mari kita kembali melanjutkan essay 🙂


PS: centre (British) = center (American)

 

Advertisements

One thought on “The Centre of Your Concern

  1. mantap, Suci 🙂
    Suka dengan quote nya
    emang ya pertanyaan-pertanyaan itu pada akhirnya (harus) bermuara ke “semua ini (dilakukan) untuk siapa?”
    dan sedihnya, seringkali lupa sama muaranya
    jadi deh sampenya lama :”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s