Soekarno-Hatta, Delapan Tahun Yang Lalu

“Jadi gini ya Bung Raka yang menyebalkan. Jarak Depok ke Soekarno-Hatta itu nggak kayak UI – Margo City yang bisa tinggal lari sepuluh menit ke jalan Margonda, terus tinggal naik segala macam angkot udah nyampe, please deh.”, gadis berjilbab segiempat di depanku masih saja melanjutkan celotehannya.

“Ya ‘kan yang penting kamu sampai sekarang, Rur..”, jawabku.

“Ya nggak siang hari mau berangkat juga kali ngabarin akunya, kak. Aku udah jantungan tahu nggak abis keluar ujian simulasi tadi. Bayangiiiin rasanya gimanaaa..

“Saya ‘kan memang nggak berekspektasi kamu akan nganter saya, Rur. Saya tahu kamu ada simulasi hari ini, jadi sejak sudah punya tanggal berangkat saya nggak ngabarin kamu. Lagipula lihat deh sekarang, kamu mau pulang sama siapa coba malam-malam begini…”

17 September 2008 pukul 23:50 WIB nanti, aku akan mulai petualanganku ke negeri berjarak 11.706 km dari Jakarta. Gadis ini sudah lama bertanya kapan aku akan berangkat. Tahu dia akan memaksa mengantar padahal di hari itu dia ada ujian simulasi penting, aku berniat hanya pamit lewat pesan singkat sambil mengirimkan do’a agar ujiannya lancar.

“Biarin, aku mau nginep di bandara aja.”, ia masih merajuk.

“Rur.. Nanti saya kirim surat ya dari sana. Kamu berkabar nanti bagaimana hasil tes simulasinya. Kalau sudah bagus, kamu sudah siap berarti daftar tes benerannya. Ingat lho, minimal nilai kamu harus 7 dari 9 supaya bisa dapat jurusan yang kamu mau. Kamu juga harus siap-siap untuk persiapan A level. Kamu nggak boleh santai-santai, ya.”

“Mulai ‘kan, mengalihkan topik pembicaraan..”, air muka gadis itu mulai berubah. Kini bisa kulihat jelas matanya mulai berkaca.

Namanya Ruri.
Ketika kembali ke SMA dua tahun yang lalu sebagai alumni untuk menyemangati siswa baru, gadis ini adalah gadis penanya pertama yang begitu menggebu mengajukan pertanyaan. Masih kelas X, anak ini sudah bertanya apa tujuan hidupku dan kenapa kuliah di jurusanku saat itu. Sekarang ia sudah sedang mempersiapkan persiapan lanjut kuliah S1 ke luar negeri. Katanya, ia akan menyusulku, ke Inggris.

“Saya berangkat dulu ya, Rur..”

Tangisnya tumpah.
Maka malam itu aku berjanji pada diriku sendiri,  aku akan buat ia sampai. Sampai ke mana tanahku sebentar lagi akan berpijak nanti.

***

IMG_20161105_134658.jpg
Greenwich Tree (dok: sucifadhilah)

London, Oktober 2008

Assalamu’alaikum, Ruri. 

Saya sudah terima e-mail pertama kamu dan sudah saya balas bahwa saya sudah sampai dengan selamat ‘kan? Maaf tidak membalas lagi email kedua kamu. Saya berpikir untuk membalas lewat surat saja. Ohya, di dekat kampus saya, ada yang jual postcard bagus-bagus. Saya kirim satu postcard kosong ke kamu bersama surat ini. Bagaimana kalau balasan selanjutnya via postcard saja? Saya ingin sekali kamu bisa lihat juga keindahan kota ini. Saya usahakan bisa kirim ke kamu tiap minggu ya. Kamu nanti selanjutnya kirim postcard khas Indonesia ya. Saya sudah kangen matahari Depok, nih. 

Selamat ya nilai simulasi kamu sudah cukup sekali untuk maju ke tahap selanjutnya!
Berhubung saya di sini S2, sebenarnya saya kurang tahu persis bagaimana tahapannya untuk masuk S1 seperti kasus kamu sekarang. Tapi yang jelas, sambil menunggu hari H tes IELTS kamu, jangan lupa kamu juga sudah harus siapkan essay-essay dan resume kamu. Saya siap bantu untuk review (nah kalau yang ini kirim lewat email saja, hehe). 

Di sini sudah masuk musim gugur, Rur. Daun-daunnya berubah warna dan cantik sekali. Suhu di sini paling tinggi 20 derajat, paling rendah bisa sampai 7 derajat kalau malam hari. Saya jadi lebih sering lapar dari biasanya, hehe. Ohya, soal makanan halal, di London mudah sekali diperoleh. Katanya, penduduk muslim di kota ini mencapai 12 persen. Kalau saya mau sholat juga tidak sulit, di kampus ada mushola. Kamu nggak perlu takut berjilbab di sini. Masyarakat di sini sangat heterogen dan menjunjung tinggi diversity. Jadi, ayo siapkan yang terbaik untuk aplikasi-aplikasinya ya (masih mode mentor jahat seperti biasa)!

Jangan marah ya saya lebih memilih mengirimkan postcard. Saya sengaja tidak mengirimkan email, email terlalu instan, Rur. Sembari menunggu surat/postcardnya datang, kita akan sama-sama belajar bersabar dan tetap produktif mengejar mimpi kita masing-masing di antaranya bukan? Saya tidak tahu bagaimana load kuliah saya ke depannya, saya juga tahu kamu juga akan segera sibuk mempersiapkan UN dan semacamnya. 

Wassalam. 
Raka. 

PS: 
Hidup di London mahal banget, Rur! Kamu nabung yang banyak ya, jangan boros jajannya :p



IMG_20161022_132209.jpg
Hyde Park (dok: sucifadhilah) 

London adalah salah satu kota dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Ditambah dengan jumlah imigrannya yang kedua terbesar di dunia, membuat London menjadi kota yang tidak hanya banyak jumlahnya, namun juga memiliki komposisi etnis yang begitu beragam. Yang menjadi favorit saya dari kota ini adalah, meski padat dan metropolis, kita masih bisa menemukan banyak sekali taman-taman indah dan bersih di London. Hyde Park adalah taman favorit saya. Jika penat, selain kamar yang selalu dibuat nyaman, taman-taman di London adalah tempat pelarian yang selalu menyenangkan.

Maaf baru bisa melanjutkan serial ini. (Dan maaf akhirnya baru masuk fase pengenalan tokoh baru, heu). Akhirnya term 1 perkuliahan sudah selesai dan saya bisa mulai mengalokasikan waktu untuk melanjutkan memikirkan cerita ini. Karena musim gugur sudah berakhir, saya tidak ingin melewatkan latar musim gugur untuk part 1 serial ini. Semoga ke depannya bisa lebih sering di-update ya 🙂

London,  15 Desember 2016
Suci Fadhilah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s