“Widih, enak banget anak beasiswa, banyak uang dong berarti.”
“Ah, anak LPDP mah uangnya banyak..”

Sebelum membahas kelanjutan postingan seri 1 ke hal-hal teknis terkait seleksi, saya ingin sekali menulis ini: soal apa sebenarnya arti dari menjadi seorang penerima beasiswa.

Saya adalah seorang penerima beasiswa sejak SMP. Alhamdulillah, orang tua saya tidak pernah ‘ngoyo’ meminta saya untuk menjadi ranking 1 ataupun mencari beasiswa. “Bagaimana pun kondisinya, rezeki anak itu ada sendiri, un.”, kata ibu. Saya lah yang sejak mengerti beasiswa selalu kekeuh, sok gaya sebagai anak pertama yang pokoknya maunya ayah dan ibu nggak usah pusing mikirin uang sekolah saya.

Lalu, enak nggak sih jadi penerima beasiswa? 

In general, absolutely YES!🙂
Rasanya seperti bekerja, tapi kamu dibayar dengan sekolah beserta beberapa fasilitas lainnya. Selain itu, kamu juga dapat sumber semangat eksternal lebih dengan menjadi seorang penerima beasiswa. Dalam kasus saya, beasiswa bertipe beasiswa prestasi selalu dilengkapi dengan performance monitoring yang mengharuskan kita memenuhi syarat konsisten di angka indeks prestasi tertentu. Jadi, mau nggak mau, urusan akademis harus masuk dalam list proritas hidup kita.

Tapi, menjadi penerima beasiswa sama sekali bukan hal yang ena-ena dan tanpa tanggung jawab, teman-teman🙂

Ada beberapa hal yang saya pahami selama 10 tahun menjadi penerima beasiswa.

  1. Ada harapan yang seketika ditumpukan ke pundak kamu
    Ketika seseorang diterima sebagai penerima beasiswa, berarti dia adalah orang yang telah dipilih dari serangkaian seleksi (yang rata-rata tidak memakan waktu sedikit), dari banyak pendaftar. Para pemberi beasiswa memiliki ekspektasi yang cukup tinggi terhadap kualitas diri kita. Dan tentunya, ada sesuatu yang mereka harapkan bisa kita berikan nanti sebagai timbal balik investasi pendidikan yang mereka berikan.Akan menjadi lebih berat lagi ketika kamu adalah penerima beasiswa dari pemerintah. Uang yang diberikan kepada kamu adalah uang rakyat. Iya, uang yang dikumpulkan dari potongan gaji ayah/ibu kamu atau guru-gurumu, pajak yang dibayarkan oleh seluruh masyarakat Indonesia.. LUMAYAN BERAT YA🙂
  2. Menjadi penerima beasiswa bukan sekadar soal menerima banyak uang
    Tapi soal bagaimana mengatur uang ini sehingga benar-benar digunakan untuk investasi pendidikan kita, bukan yang lain. Uang adalah makhluk ciptaan manusia paling menyebalkan di dunia, sumber dari paling banyak masalah di dunia. Penerima beasiswa adalah seseorang yang perlu menjadi sangat amanah terhadap nikmat pendidikan dan fasilitas yang diberikan. DAN ITU, SUSAH :))
  3. Akan sangat merugi jika seorang penerima beasiswa tidak bergerak, tidak belajar
    “Ketika seseorang tidak berpindah dari suatu state pemahaman ke state lainnya, berarti dia tidak belajar”. Belajar di sini bukan hanya soal duduk di kelas dan full attendance. Akan sangat sayang sekali jika dengan segala fasilitas tapi ternyata kita sebagai pribadi tuh nggak bergerak ke state yang lebih baik. Nggak ada ilmu yang dibawa, gitu-gitu aja. SAYANG BANGET.
  4. Menjadi penerima beasiswa bukan sesuatu yang perlu kamu banggakan di depan orang tua kamu: “Mamah nggak bisa atur aku, aku kan bayarin hidup aku sendiri sekarang”, BUKAN
    Ini nih. Mentang-mentang sudah bisa hidup dengan uang sendiri, apalagi yang di luar negeri pula, terus udah ogah “diatur” sama orang tua. Saya selalu ingat kata ibu bahwa rezeki saya itu ada sendiri, dan itu bisa dari mana saja sumbernya, perantaranya bisa dari hasil kerja keras kedua orang tua kita, atau dari yang lainnya. Ketaatan seorang anak kepada orang tua BUKAN karena uang yang kita terima dari keduanya. Tanpa dibiayai saja, yang namanya orang tua jasanya nggak mungkin bisa dibalas, iya, nggak perlu saya sebutkan satu-satu di sini kan ya..
  5. Menjadi penerima beasiswa bukan untuk membanding-bandingkan
    Seringkali, karena kita terlena dengan pembiayaan orang tua sebelumnya, kita merasa bahwa fasilitas kita dibatasi sebagai penerima beasiswa. Harus mengikuti A, B, dan C apa yang ditentukan oleh pemberi beasiswa. Kita tidak ada untuk membanding-bandingkan. Ambil positifnya, berpikir positif, luruskan asumsi-asumsi.

Terakhir, sebuah video membuat saya akhirnya menulis postingan ini ketimbang menyelesaikan draft-draft sebelumnya:

Bayangin nih ya, ketika kamu marah-marah sama segelintir ketidakprofesionalan “pelayan pemerintah” yang mengurusi beasiswamu nanti, sadar nggak sih kalau sebenarnya mereka bisa balik sebel karena gaji mereka dipotong salah satunya untuk membiayai sekolah kamu? Padahal, gaji kotor mereka saja mungkin tidak sampai setengah dari biaya perbulan yang diberikan padamu, apalagi gaji bersihnya.. Kalau kamu, setelah serius belajar dan lulus, kamu punya harapan besar dan lebih banyak piihan berkarier daripada mereka..

Mereka tak punya pilihan. Jangan sampai, jika suatu saat nanti pemerintah tiba-tiba membuat keputusan bahwa setiap pelayan pemerintah boleh memilih kemana saja pajak yang dipotong dari gaji mereka itu akan dialokasikan, tidak ada lagi yang mau memilih memberikannya untuk kita para penerima beasiswa..

Bersabarlah.
Tunjukkan kesantunan dan ketinggian ilmumu.
Berikan umpan balik yang baik nanti untuk menjadi lebih baik.

Selamat dan semangat bersiap (atau melanjutkan perjuangan) menjadi seorang penerima beasiswa, para karya siswa harapan bangsa! :) 

London, 10/10/2016
Suci Fadhilah
MA in Education and Technology, University College London
PK-67 LPDP RI

2 thoughts on “Study Abroad Series #2: Menjadi Penerima Beasiswa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s