gambar fitur dari dokumen pribadi, diambil oleh kak @nikenfitria.

***

I am not a very fashionable person. Dan saya juga termasuk satu dari sekian wanita yang nggak ikut trend fashion, nggak terlalu peduli sama merk baju, dan baru saja punya anggaran khusus “biar nggak kucel” di anggaran bulanan sejak lulus kuliah (itu pun sering pada akhirnya dialokasikan untuk beli hal lain, heheu). Tapi, kalau urusan penampilan, saya juga sudah bukan perempuan yang cuek-cuek amat lagi. 

Buat saya, fashion adalah yang penting seorang Suci nyaman ke luar rumah, sesuai momen dan situasi-kondisi, warnanya nggak nabrak, “cantik”, tapi tetap sederhana. Kerja di lab bahkan membuat saya nggak perlu pusing mikirin mau pakai baju apa hari itu. Jadi satu-satunya perempuan di lab bikin saya ya nggak punya saingan dong soal penampilan, hehe.

However, over all things related to fashion, saya akhirnya sadar bahwa saya punya satu jenis fashion yang saya suka: pakaian rajut, terutama untuk dijadikan outer. Kesannya kayak nenek-nenek ya? Tapi gimana doong, warna-warna pakaian rajut biasanya punya kesan lembut: soft pink, abu-abu, hijau daun, baby blue, cokelat muda, warna-warna pastel.. (Sukaa ><) Waktu tempo hari ke Takashimaya di Shinjuku, hampir kalap beli baju rajut untuk winter-nya orang-orang Jepang yang harganya muahale. Untung sadar di Depok panas, kapan coba mau dipake?

Tumben-tumbennya nulis tentang fashion, ceritanya hari ini saya habis nemu promo outer rajut impor di Mangga Dua Mall. Bayangkan, outer rajut impor harganya 100ribu 3 potong! Iya lah, saya juga awalnya nggak percaya. Akhirnya, saya tanya deh ke si Mba yang jaga tokonya. Karena saya curiga itu pakaian bekas, si mba menegaskan bahwa barang-barang ini adalah kebanyakan barang reject hasil produksi atau barang yang sudah nggak laku lagi di pasaran luar negeri sana, akhirnya dijual murah ke distributor dan sampailah ke Indonesia, jadi bukan barang bekas. Barang reject itu bisa karena measurement produksi (karena diprosuksi mesin rajut ya) yang nggak sesuai rencana atau kena noda minyak mesin jahit sedikit di beberapa bagian (yang sebenarnya kalau dicuci hilang sih) yang akhirnya membuat barang-barang tersebut tidak lolos quality control. Nahloh! Lumayan banget ‘kan? Barang impor, murah, dan secara kualitas bisa dipilih-pilih kok mana yang beneran bagus. Saya dapat satu yang asalnya dari Jepun sana, benangnya lembut, dan warnanya biru, perfect!

10431668_10203559040518238_2689096908461202743_n
Suci dan outer rajut pertamanya (dok: pribadi)
20150904_122606.jpg
Suci (nah, itu outer hijau yang masih jadi terfavorit sampai hari ini)- Kak Dinda – Nay

 

20160808_173755
Tiga outer hasil belanja hari ini.

Ditambah hasil belanjaan hari ini, koleksi outer rajut saya jadi total sudah ada 7. Semoga ada rezeki supaya bisa nambah lagi. Aamiin, hehe.

Beberapa tips dari saya kalau kamu juga tertarik untuk belanja barang-barang impor reject sejenis untuk memastikan itu bukan barang bekas:

  1. Teliti jahitan dan kondiri reject-nya! Telitilah di bagian mana pakaian tersebut akhirnya jadi barang reject. Kalau dilihat jahitannya super kasar dan bisa bikin gampang berudulan di masa depan, jangan dibeli yaah. Kalau karena ada noda, teliti seluas apa nodanya, mengganggu penampakan bajunya ketika kita pakai atau tidak, dan kira-kira kalau dicuci bisa hilang atau tidak.
  2. Teliti kondisi benang rajutnya (khusus untuk pakaian rajut). Kalau bahan rajutannya dari benang cotton, pastikan benangnya masih halus dan bagus, tidak ada (apa ya istilahnya?) berudulan atau berbulu-berbulu gituu.
  3. Pastikan juga warnanya masih cerah cemerlang ya!
  4. Make sure merk yang ada di price tag dan yang terjahit di bajunya sama yah. Kalau beda, hmm, patut dicurigai barang bekas yang dikasih price tag baru ‘kan? hho.
  5. Periksa kondisi kekuatan kancingnya. Memang sih beberapa pakaian baru juga ada yang kondisi jahitan kancingnya nggak banget. Tapi kalau saya pribadi, akan lebih secure kalau beli barang impor reject begini jika kondisi jahitan kancingnya kuat. Kekuatan kancing kan juga bisa dijadikan ukuran sudah seberapa lama pakaian itu sudah dipakai, hehe (baru bisa ngejahit kancing soalnya).

Yosh, sekian salah satu sharing-sharing jarang di blog ini. Untuk selanjutnya, saya akan fokus menyelesaikan draft-draft untuk mengisi waktu nganggur: yap, sharing pengalaman berburu beasiswa dan kampus sebagai scholarship hunter. Ikutan baca yah😀

Depok, Suci yang masih sangat bahagia❤

4 thoughts on “Suci dan Outer Rajut

  1. aku juga sukaa outer rajutan gitu kaaakkk bagussss soalnyaa tapi di aku ga pernah cocok :”) kak suci cocok deh pake itu apalagi nanti kalau udah di UK uww tambah fashionable

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s