Ilmu

Di salah satu buka puasa di rumah, saat kami berlima sedang lengkap berbuka di rumah, termasuk si adik ganteng yang biasanya ada aja jadwal buka puasa di luarnya.

“Ridho, tahu nggak kenapa Ibu bisa duduk di kursi putar ini dengan seimbang dan tidak jatuh?”, tanya ibu pada si adik pintar.

“Hmm, karena ibu bisa ngendaliin kursinya?”, jawab Ridho.

“Iya, ibu bisa duduk di kursi ini dengan seimbang, tanpa terdorong ke depan, atau terjungkal ke belakang, karena ibu tahu ilmunya..”

“Segala sesuatunya itu harus dikendalikan dengan ilmu. Kita bisa melakukan apa saja, tapi, ilmu diperlukan untuk mengendalikannya, agar semuanya ‘pas’, tidak kurang, dan tidak berlebihan.”

***

Aku takut menulis lagi. Aku takut menulis yang ternyata membuat orang lain berasumsi. Yang membuat orang lain ternyata menjadikannya bahan untuk menyakiti orang lain. Aku takut menulis lagi. Aku takut menulis lagi. Aku takut menulis yang membuat orang akhirnya menciptakan ekspektasi yang tidak bisa kupenuhi. Aku takut menulis yang membuat diriku tinggi hati.  

Aku takut menulis lagi. 

***

Mengapa seseorang menulis? Mengapa aku menulis?
Kadang, lisanku tidak pandai menyampaikan apa yang sebenarnya hatiku ingin sampaikan. Lewat tulisanlah aku biasanya bisa lebih jujur.. Dan aku ingin bisa selalu jujur. Jujur dengan perasaan-perasaan sendiri.

Tapi aku takut, aku takut menulis lagi. 

***

“Segala sesuatunya itu harus dikendalikan dengan ilmu. Kita bisa melakukan apa saja, tapi, ilmu diperlukan untuk mengendalikannya, agar semuanya ‘pas’, tidak kurang, dan tidak berlebihan.”

Ternyata, sejujur apa pun, tidak semua hal harus diceritakan. Tidak semuanya harus disampaikan. Menulis juga harus dengan ilmu. Ilmu membatasi apa yang harus dituliskan apa yang tidak. Tetap menulis dengan jujur, tapi juga dengan cukup. Menulis yang jujur dan cukup.

***

Dan,

If you want to be someone for others, you have to be someone for yourself first. 
If you want to help others, you have to help yourself first. 
The happiest is when you can make others happy. But, in order to make others happy, you have to be happy yourself first. 

And I am helping myself now. mungkin, Suci masih kurang berilmu..

Why complicate life, Suci? Ah, wondering who can stand with this complicated mind of mine..

Mohon do’anya..

5 thoughts on “Ilmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s