Keterlambatan

Soekarno Hatta, 4 Juni 2016
17:49 WIB

Pesawatku terlambat datang.
15.30 ia janjikan, tapi kemudian datang kabar bahwa ia harus mengubah jadwal: 16.45 katanya.

Pesawatku terlambat datang.
Usai tiba di ruang tunggu dan sholat Ashar, ia kembali berkata, bahwa aku harus menunggu hingga 18.30. Ia masih di Semarang.

Pesawatku terlambat datang.
Makan malam disajikan. Dan baru kali ini, aku merasa bahwa senyumku begitu berharga. Iya, seorang pegawai yang membagikan makanan padaku tadi baru saja dimarahi dan dikerumuni. Bahkan sedikit senyum bisa membuatnya membalas sapaku dengan senyum juga (walau masih dengan raut panik dan kusut tersisa), diikuti ucapan lirih: “mohon maaf ya, Mba”, tapi tulus dan menenangkan.

Pesawatku terlambat datang.
Ada seorang gadis yang sedari tadi masih tak lepas dari handphone-nya. Entah siapa yang ditelponnya, tapi ia tetap tertawa bahagia dengan lawan bicaranya. Tak beranjak sedari tadi dari kursinya, tampak sekali keterlambatan ini tidak besar bagi dirinya.

Pesawatku terlambat datang.
Seorang anak perempuan lewat di depanku dan berkata pada ibunya, “Bu, yang ke Lampung dapat makan! Kita ke Lampung apa?”, yang berhasil memunculkan senyum kembali di wajahku.

Pesawatku terlambat datang.
Tapi, ada hati yang tidak terlambat belajar. Bahwa terlambat tidak selamanya soal waktu yang lebih beberapa angka dari waktu seharusnya. Bahwa terlambat kadang justru soal waktu yang lebih tepat. Bahwa sabar, adalah apa yang terkomunikasikan lewat hati, bukan lewat kata. Bahwa menunggu, harus sambil baca buku, atau, menulis di blog ini. Sabar, dan syukur..

Terima kasih🙂
Semoga ibu tidak terlanjur cemas.

PS:
Delay maskapai biru-merah bersayap emas ini termasuk jarang terdengar sampai begitu lamanya. Namun, delay hari ini benar-benar seperti domino. Beberapa perjalanan lain sebelum dan setelah ini pun mengalami keterlambatan yang tidak sebentar. Semoga menjadi pembelajaran yang berharga.

 

 

2 thoughts on “Keterlambatan

  1. Wah, udah sejak lama pengen nulis tentang terlambat, tapi gak pernah kesampaian (baca: wacana), hahaha..
    Tapi intinya sama, “terlambat kadang justru soal waktu yang lebih tepat”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s