Menabung Rindu (Versi 26 Maret)

Katanya, satu-satunya obat rindu adalah bertemu..

Aku suka banget makan cokelat. Sukanya banget.
Dulu pas zaman SMA hidup di asrama, aku selalu nyetok chocolat*s buat jadi camilan. Kalau dapat kiriman dari rumah, pasti salah satu di antaranya ada chocolat*s-nya.

Waktu di awal kuliah, aku mulai sering beli cokelat batangan untuk di-stock di kala mood lagi kurang baik atau untuk sedikit mengobati rasa sedih. Sejak ketemu sama cokelat green tea di Malaysia, aku juga jadi nyetok setoples cokelat green tea di dorm.

Pokoknya, phenylethylalanine dan sensasi manis pahitnya cokelat itu selalu berhasil bikin suasana hati jadi sedikit lebih nyaman.

Tapi, sejak beberapa waktu yang lalu sempat bermasalah sekali dengan je*aw*t di wajah yang lumayan parah, aku disarankan untuk mengurangi konsumsi cokelatku. Memang bukan penyebab mutlak munculnya sih, tapi kadar gula dan lemaknya yang lumayan tinggi katanya bisa memacu produksi minyak di wajah dan ujung-ujungnya jadi makin ramai deh dia nanti. hehe.

Jadilah sudah berbulan-bulan nggak nyetok cokelat lagi.

Rinduu sekali rasanyaa..

Setiap ke indomaret dan melihat deretan chun*y bar di kasir, rasanya menggodaa sekali. Tapi kemudian langsung ingat lagi. Dan ingat juga kalau harga chun*ky bar dan rata-rata cokelat nggak main-main. Bisa harga dua kali makan siang (kalau versi sedang sangat berhemat dan bawa bekalan nasi dari kosan. hehe). Di kala pengeluaran sedang lumayan begini, faktor harga juga akhirnya masuk ke alasan akhirnya harus menunda bertemu lidah dengan si cokelat :”)

Setiap ingin makan cokelat, berbagai alasan hadir di kepala. “Ah, mahal”, “Ah, jangan, ci. Ditunda dulu lagi saja.”, atau “Ah, nanti sekali makan langsung habis semua, sayang.”, dsb.

Iya, betapa pun ingin sesering mungkin makan cokelat, kita tetap perlu alasan mengapa harus sekarang.

Dalam hati akhirnya berdo’a.
Semoga nanti lain kali kalau sedang ingin makan cokelat kebetulan sedang ada budget-nya untuk beli cokelat.
Semoga nanti lain kali kalau sedang rindu sekali makan cokelat, kebetulan sedang baik-baik saja wajahnya.
Semoga nanti lain kali kalau sedang rindu makan cokelat, memang sedang butuh dopping untuk bisa lebih bersemangat.

Suci hanya harus percaya bahwa, nanti ada waktunya bisa makan cokelat lagi dan cokelatnya akan tetap bisa dibeli di mana-mana kok. ((Semoga nggak akan muncul gerakan menutup pabrik cokelat di seluruh dunia. Aamiin))

Sampai akhirnya..
Hari itu datangg..

Ibu baru saja pulang umroh beberapa hari yang lalu. Ingat anaknya suka sekali makan cokelat, ibu bawa banyaak sekali cokelat Arab dan cokelat kerikil (yang mirip-mirip chac*a tapi versi batu kerikil, menarik sekalii).

Alhamdulillah, rindunya pun terobati.. :”)

Dan rasanyaa.. cokelat-cokelat tersebut adalah cokelat paling enak yang pernah dimakan. Pasti rasa senangnya berbeda kalau setiap saat ingin makan cokelat langsung dipenuhi keinginannya. Rasa senang sebanyak ini terjadi karena berhasil menabung rindu yang lumayan lama dan akhirnya terobati. Huah, senang sekali deh pokoknya rasanya.

Pada akhirnya, satu-satunya obat rindu tidak selamanya bertemu.
Ia bisa berupa do’a yang dilayangkan terus, terus.
Dan pada akhirnya, percayalah bahwa ada ganjaran rasa bahagia berlipat-lipat nantinya.

Yosh, mari menabung rindu🙂

Depok, 7-8 Januari 2016

IMG_2743.JPG
kangen sama yang sok gede itu. pake banget.

PS:
(Versi 26 Maret 2016)
Ditabung lagi rindunya ya, Suci..
Berjuang dulu lagi di sini🙂

Repost dari: http://sucifadhilah23.tumblr.com/post/136865533302/menabung-rindu

One thought on “Menabung Rindu (Versi 26 Maret)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s