Keluhan Seorang Ibu di Apotek

Suatu hari, saya baru saja meyerahkan resep saya ke apoteker Rumah Sakit di daerah Depok Timur ketika saya menemukan kursi kosong di samping seorang ibu, di baris pertama kursi di ruang tunggu Instalasi Farmasi. Ibu itu juga sama seperti saya dan puluhan orang lainnya di sini, (akan) sedang menunggu dipanggil pertanda obatnya sudah selesai diracik.

Saya duduk di sebelah ibu itu, kemudian siap-siap membuka tas untuk mengambil buku–karena saya tahu proses ini akan berlangsung lama. Belum selesai satu halaman bacaan saya, terdengar celetukan yang tak salah lagi dari Sang Ibu di samping saya.

“Mana nih obatnya udah satu jam nggak jadi jadi. Obat cuma satu nunggunya lama banget.”

Tidak keras memang. Hanya mungkin saya, ibu lain di samping kirinya, dan dua orang bapak di belakang kami yang bisa mendengarnya.

Saya terdiam. Ingin mengajak bicara, namun tahu ibu tersebut sedang emosi. Takut salah-salah kata, saya pura-pura kembali melanjutkan bacaan.

“Ini nih bikin males ke sini. Nunggu obatnya lama! Pake diketik-ketik pake komputer sih. Pake dicetak-cetak dulu. Kenapa sih nggak ditulis tangan aja biar cepat?”

Keluhan Sang Ibu berlanjut dan dilontarkan ke Ibu lain yang duduk di kirinya. Keluhan yang kedua ini jelas menggelitik saya yang empat tahun ke belakang berkutat dalam sebuah perkuliahan yang tidak bisa lepas dari yang namanya komputer.

Ingin sekali rasanya bisa memberikan sedikit pengertian kepada sang ibu.

Bahwa sebenarnya, sistem yang dimiliki Rumah Sakit ini memiliki basis data yang sangat besar, yang sangat membantu proses rekam medik pasiennya. Sistem yang  akan sulit sekali di-handle oleh buku log manual yang ditulis oleh tangan. Sistem yang justru membuat segalanya lebih cepat, mudah, dan efisien.

Ah, mungkin Sang Ibu memang sedang terburu-buru. Mungkin memang sudah ada hal lain yang ingin beliau kerjakan setelah ini.

***

Mungkin benar kata Mas Gagah:

Ketika kita tidak (belum) dapat memahami suatu kebaikan, maka cobalah untuk menghargainya
~Mas Gagah, Helvy Tiana Rosa

***

15 menit kemudian, nama saya dipanggil oleh Apoteker. Sementara Sang Ibu, belum juga beranjak dari kursinya.

Semoga lekas diberikan kesembuhan oleh Allah ya, bu. Allahumma aamiin..

Depok,
Suci, di tanggal 18 yang ke sekian.

2 thoughts on “Keluhan Seorang Ibu di Apotek

  1. Sebenarnya untuk obat racikan maksimal 1 jam harus sudah bisa diserahkan kepada pasien, Mungkin ada kendala lain sehingga beliau harus menunggu lebih lama🙂

  2. Wajar deh ini Kak menurut saya. Orang-orang akan cukup sensitif jika topiknya berhubungan dengan kesehatan, apalagi menyangkut dirinya, atau orang terdekatnya.

    Cuma, sebenarnya yang sering terlupakan… Adalah perhatian (dan toleransi, serta penghargaan) kita terhadap mereka yang berjuang di bidang kesehatan. Dokter, Apoteker/Farmasis, Perawat, kesemuanya telah melewati fase yang berat hingga mereka dapat diakui sebagai orang-orang yang mampu di bidangnya: mendapat gelar profesi, praktek, dan lain-lain. Terlebih, tanggungan mereka adalah kesehatan, yang kalau salah-salah sedikit bisa berabe, bahkan nyawa juga bisa jadi taruhan. Terus, jika mereka melakukan kesalahan, implikasinya adalah mendapat sanksi sosial yang berat di masyarakat.

    Yah, seberat itu beban yang harus mereka tanggung. :’)

    Jadi… Buat saya, penghargaan bagi mereka yang berkontribusi di bidang kesehatan itu perlu ditingkatkan. Dari kita, sebagai orang-orang yang sangat bergantung kepada mereka…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s