48 Anak Tangga dan Cara Manusia Memandang Perubahan

Saya suka mencoba hal-hal baru, tapi sulit jika mesti berdamai dengan beberapa jenis perubahan: kehilangan, perpisahan, dan perpindahan.

***

Sudah tiga hari ini, jembatan penyebrangan dari stasiun UI ke barel bisa aktif digunakan oleh masyarakat.
(Tapi di pagi hari sekali masih ditutup untuk menyicil beberapa penyempurnaan bangunannya sih)

Sebelum adanya jembatan ini, masyarakat perlu melintasi rel kereta untuk menyebrang. Selama ini, tidak ada palang penghalang sehingga kita tidak boleh sampai lengah menengok kanan-kiri apakah ada kereta yang akan melintas atau tidak. Paling-paling hanya bapak satpam penjaga saja yang dengan setia memberikan peringatan kalau ada kereta yang mau melintas. Dan itu pun kadang-kadang masih saja ada yang bandel (saya juga pernah bandel lari ngibrit aja nyebrang karena suatu hari sedang akan terlambat, hue).

Selain itu, jika sehabis hujan lebat, area seberang rel dari stasiun UI menuju barel selalu banjir–atau paling tidak, genangan air yang bercampur lumpur. Entah kenapa, meski sudah beberapa kali area itu disemen ulang, tetap saja banjir. Kalau hipotesis saya sih, karena tidak ada cukup area untuk irigasi air di sekitar situ. Alhamdulillah, ada bapak-bapak penjaga toko di barel yang rajin mencarikan kayu atau papan untuk digunakan sebagai pijakan untuk melalui banjir di area itu. Tapi tetap saja, tidak terhitung berapa kali saya pulang dengan kaus kaki dan rok bercampur lumpur. Ditambah lagi, kalau malam hari (di jam-jam prime time orang-orang kembali dari kantor), karena banyak penyebrang dan papan/kayu pijakannya terbatas, terjadilah fenomena macet manusia di sana–yang mengantre untuk lewat.

Sebagai pejalan kaki yang setiap hari melewati jalan itu, saya senang sekali dengan adanya jembatan penyebrangan ini. Selama masa pembangunannya, setiap lewat saya selalu bertanya kapan jembatan ini akan rampung. Saat kerangka jembatan ini sempat roboh karena hujan lebat, saya berdo’a supaya segera bisa diperbaiki lagi dan pembangunannya tetap bisa dilanjutkan.

Dan saya kira, semua orang juga merasa begitu. Kenyataannya: tidak.

Dalam sebuah percakapan yang saya tidak sengaja dengar selama menaiki tangga jembatan penyebrangan:
“Duh kenapa deh sekarang perlu ada jembatan penyebrangan? Kan capek harus naik tangga. Mana tinggi banget lagi. Gue ‘kan tiap hari lewat sinii. Males bangeet.”.
Di hari yang berbeda:
“Aduuh.. Sekarang jadi lebih lama deh mau nyebrang doang. Kesel.”

Saya cukup terkejut ketika mendengar suara-suara ini. Karena sebelumnya, saya yang sudah kesenangan masalah-masalahnya terselesaikan dengan adanya jembatan ini sama sekali tidak terpikir soal ini. Manusia benar-benar beragam ya?

Saya jadi tertegun dan membayangkan berapa dana yang sudah habis untuk proyek jembatan ini. Apalagi sempat roboh di tengah pembangunannya. Lalu, soal waktu yang dihabiskan untuk membangun jembatannya, pasti jauh jauh jauuuh lebih lama dibandingkan waktu naik dan turunnya kita dalam sekali penyebrangan. Lalu, soal risiko ditabrak kereta yang berubah menjadi hampir 0 (belum 0 karena masih ada kemungkinan jika jembatannya runtuh terus tiba-tiba keretanya lewat, naudzubillahi min dzalik deh). Lalu, soal nggak akan ada lagi antrean manusia yang perlu pijakan kalau banjir. Lalu, kita juga sekarang sudah punya self-control terhadap berapa lama waktu kita akan menyebrang, tidak tergantung lagi dengan ada kereta yang melintas atau tidak.

Dan cara manusia memandang perubahan ini, tentu tidak hanya pada masalah si jembatan penyebrangan ini saja..

Pada akhirnya, sebuah perubahan tetap perlu dilakukan selama itu membawa kebaikan dan kebermanfaatan. Sebagai subjek yang (perlu) melakukan perubahan, kita selalu perlu menganalisis kebutuhan dan melakukan yang terbaik yang kita bisa lakukan. Sebagai objek perubahan, kita wajib bijak dalam menanggapinya. Jangan sampai, menanggapi perubahan hanya atas dasar kepentingan dan analisis untung-rugi pribadi yang pada akhirnya tidak bisa membawa kebaikan apa-apa bagi sekitar kita. Selalu ingat untuk melihat sisi positifnya. Waktu untuk transisi dan adaptasi memang selalu diperlukan. Jadi, harus bersabar. Semoga kita selalu berjuang serta dibawa ke perubahan-perubahan yang positif yaa.

Kita perlu selalu jadi lebih baik lagi, Indonesia🙂

***

Dan hei, selamat berpindah. Selamat menciptakan dan menikmati perubahan! Semoga Allah selalu bersama kita, mengiringi jalan menuju tujuan kita dengan kebahagiaan. Semoga do’a tetap selalu teriring dengan kebersamaan🙂

Allahumma aamiin..

NB:
Dan untuk Suci, selamat menaiki 48 anak tangga naik dan turun (96 in total) jembatan penyebrangan + 30 anak tangga naik turun (60 in total) lab DL2 setiap hari! Kurus, ci. In syaa Allah! SE-MA-NGAT!
*dengan ini, Suci sudah melakukan olah raga setiap hari. YES* #tulangsehattanpaosteoporosis #laptopjanganditaroditaslagiyaci

6 thoughts on “48 Anak Tangga dan Cara Manusia Memandang Perubahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s