Soal Uang: Kesehatan Finansial

Sadar bukan anak ekonomi, saya berusaha untuk belajar banyak soal yang satu ini: menjadi sehat secara finansial. Bukan hanya karena saya sekarang sudah mulai memiliki penghasilan sendiri, tapi karena memang sejak dulu saya tidak ingin dikendalikan dan bermasalah dengan yang namanya uang. Jadi sejak dulu, berapapun uang yang diberikan orang tua dan seterbatas apapun beasiswa yang diberikan, akan saya coba untuk kelola dengan baik agar kebutuhan-kebutuhan extra saya tidak lagi banyak bergantung dari orang tua.

Kemarin saya berkesempatan mengikuti sebuah seminar perencanaan keuangan yang dibawakan oleh Kak Kaukabus, owner-nya langsung Kaukabus Financial Literacy Center. Nah, supaya ilmunya nggak menguap, saya coba tuliskan di sini supaya bisa dibaca-baca terus. Dan semoga juga bisa bermanfaat buat yang baca blog saya ini :”) *ngarep* Aamiin..

Yang pertama, jadi sebenarnya apa sih tujuannya keuangan itu?
Tujuan keuangan secara umum adalah memberikan ketahanan hidup dan kompetensi. Jadi, selain untuk menjadi alat bertahan hidup, uang juga seharusnya bisa kita “manfaatkan” sebagai tools untuk kita meningkatkan kompetensi diri kita. Begitu.

Lalu gimana sih supaya kita bisa menjadi sehat secara finansial?

  1. Atur arus kas bulanan kita.
    INI PENTING BANGET. Kita harus tahu cash flow keuangan pribadi kita! Catat pemasukan dan pengeluaran setiap bulan. Evaluasi tiap bulan. Apakah kita sudah cukup menabung? Jangan sampai kita jadi manusia yang besar pasak daripada tiang.
  2. Atur arus kas tahunan kita.
    Selain pengeluaran bulanan, ternyata kita juga pasti punya pengeluaran tahunan. Seperti pengeluaran bulan Ramadhan, traveling ke kota-kota baru, jatah pulang ke kampung halaman, dan lain sebagainya. Ini juga jangan lupa dicatat.
    tips dari mba Kaukabus, sebaiknya selain buat resolusi di awal tahun, buat juga rencana pengeluarannya. Misal punya mimpi tahun 2016 lanjut kuliah ke luar negeri, nah itu harus udah masuk tuh anggarannya di kas tahunan (Biaya tes bahasa inggris, biaya aplikasi, biaya medical check up). Jangan masuk ke pengeluaran per bulan atau mengganggu budget bulanan kita. Hmmm Hmm.. *catet*
  3. Periksa aset bersih yang kita punya.
    Ini kalau kita sudah punya aset pribadi ya. Jadi kita bisa tahu exactly “harta” yang kita punya. Yang termasuk aset bersih itu tabungan, deposito, emas, asuransi pendidikan, reksadana, obligasi, saham, piutang, rumah, kendaraan, dan bisnis (jika ada).

Terus-terus bagaimana sih yang dikatakan sehat secara finansial itu?
Ada 3 nih cirinya, yaitu:
1. Bisa menabung minimal 10% dari total pendapatan
2. Kalau memang punya cicilan, cicilan ini maksimal hanya 35% dari total pendapatan kita
3. Aset lancar minimal 4x dari pengeluaran kita

Untuk menabung sendiri, Mba Kaukabus menyarankan untuk kita yang masih hidup sendiri (ecie), kalau bisa menabunglah sebanyak-banyaknya! Jangan sampai terlena dengan gaji pertama dan akhirnya berleha-leha. Kalau bisa 40-60% pendapatan kita ditabung. (Nah yang pendapatannya udah dua digit bisa tuh harusnya sampai 80%). Kalau kata seseorang, menabung itu harus cerdas B)

Terus terus, kalau sudah rajin mengatur kas bulanan tahunan dan melakukan pencatatan-pencatatan kemudian kita menemukan bahwa ternyata kita belum sehat secara finansial, segeralah bergerak untuk memperbaiki keadaan! Soalnya bisa bahaya nanti jadi kebiasaan. Jadi merasanya baik-baik saja (uang yang didapat besar tapi ternyata keluarnya juga besar dan bahkan nggak bisa menabung, dsb), padahal sebenarnya tidak baik-baik saja.

Lalu, setelah merasa sehat secara finansial, ada baiknya kita mulai bergerak untuk menjadi manusia yang bebas finansial. Bebas finansial itu apa? Bebas finansial itu gampangnya, kita nggak kerja banyak tapi uangnya ngalir sendiri #eh. Hehe. Bagaimana caranya? Ada 3, yaitu:
1. Bisnis :3
2. Properti (disewakan atau diperjualbelikan lagi sebagai aset pasif)
3. INVESTASI

Khusus untuk investasi, Mba Kaukabus bilang investasi yang baik adalah yang bisa memberikan kita pemasukan minimal 3x dari pengeluaran kita setiap bulannya. Jadi, harus pilih-pilih dan menimbang-nimbang juga kalau mau investasi ya. Kenali juga profil diri kita dalam menghadapi risiko. Apakah kita termasuk orang yang memiliki ketahanan terhadap kerugian yang besar atau tidak? Kalau tidak, investasinya mulai dari yang kecil-kecil dulu saja.

Yak. Jangan lupa juga bahwa sebagai seorang muslim, uang itu fungsinya hanya dua: untuk dikonsumsi, dan untuk disedekahkan. Jadi, pastikan harta yang kita punya juga berkah dan bermanfaat buat banyak orang serta bernilai sedekah semuanya.

Uang hanya tools. Karena itu, jangan sampai kita yang dikendalikan oleh uang. Kitalah yang harus mengendalikan itu. Jadi muslim at least nggak ngerepotin muslim lainnya harus kaya, kaya yang bermanfaat. Uang itu amanah. Kalau bisa, jangan sampai berhutang.

Jadi, siapa coba yang dulu suka ngecengin kalau lihat temannya suka nyatet pengeluarannya? :p
Yah, kalau saya sih mimpinya di masa depan bisa jadi manajer yang keren. Yang bisa menyesuaikan kemampuan finansial dengan keinginan dan mimpi yang banyak🙂
Supaya nanti, berapa pun yang ada di celengan tetap bisa buat beberapa pos mimpi, nggak hanya habis di kebutuhan sehari-hari.
((next: setelah bisa mengatur, semoga bisa jadi orang yang pintar nyari uang juga. aamiin))

Mari belajar, demi masa kini, masa depan, dan masa tua yang bermanfaat dan menyenangkan🙂
Apalagi perempuan, harus bisa pintar mengelola uang. Harus bisa mengelola amanah nafkah sebesar apapun dengan sebaik-baiknya. Mari belajar🙂

Ohiya, satu lagi poin penting yang di-share oleh Mba Kaukabus. Kondisi finansial kita yang sekarang sama sekali nggak menentukan apa-apa untuk kehidupan kita di masa mendatang. Bisa saja saat ini kita tajir, banyak uang, tabungan super banyak, tapi kita nggak pernah tahu gimana besok. Bisa jadi juga kita benar-benar nggak punya uang saat ini, atau cuma punya modal, atau belum punya pemasukan tetap, tapi kita rajin dan bekerja keras, kita bisa jadi kaya dan jadi jutawan di masa depan.

Cobaan finansial banyak sekali, entah itu sakit, tiba-tiba rugi besar, kemalingan, dan sebagainya. Makanya, kita harus jadi pribadi yang senantiasa rajin dan giat! Jadi setiap mau mengeluarkan uang, kita harus benar-benar pikirkan manfaatnya dan juga efeknya terhadap kesehatan finansial kita. Jangan sampai jadi manusia yang malas! Selain itu, kita juga nggak boleh pelit! Kita nggak tahu dari mana kita akan memperoleh pertolongan di saat-saat tersempit kita (naudzubillah).

Terakhir, saya juga belajar dari ibu saya soal uang-uangan ini. Saat baru lulus beberapa waktu lalu, ibu saya kekeuh pengennya saya di rumah. Terus saya protes: “Ih si ibu mah aneh. Bukannya harusnya malah didorong buat kerja ya bu supaya anaknya bisa ‘ngasih’ orang tua?”. Lalu ibu saya santai jawab begini: “Ibu mah nggak pengen-pengen amat tuh dikasih anak-anak. Pengennya malah sampai tua nanti tetep bisa ngasih cucu”. :”””””” Dan tahukah kamu, ini juga salah satu poin yang ditekankan oleh Mba Kaukabus kemarin: keberhasilan kemandirian finansial adalah ketika kita tidak merepotkan generasi di atas kita, dan juga jangan sampai menjadi beban untuk generasi di bawah kita nanti.

Nah, itu tadi ilmu yang kemarin saya dapat. Kalau kamu, bagaimana strategimu dalam mengelola keuanganmu selama ini? Yuk bagi-bagi biar bisa sama-sama belajar😀

2 thoughts on “Soal Uang: Kesehatan Finansial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s