Merasionalkan Perasaan

Beberapa hari ini, saya menemukan artikel-artikel yang topiknya mirip: soal menjadi rasional dalam hal hubungan dan perasaan.

Saya sudah hampir 22 tahun sekarang. Kalau menurut teori psikologi perkembangan, saya sudah masuk fase dewasa muda. Dan katanya, tugas perkembangan seorang dewasa muda adalah untuk dapat berkomitmen pada sebuah hubungan. Dalam hal ini goal-nya adalah pernikahan dan membentuk keluarga. Saat ini, sudah bukan hal aneh lagi jika saya pergi ke resepsi pernikahan.

Dulu saat remaja, saya bukan orang yang terbiasa dengan hal-hal berbau virus merah jambu. Saya juga bukan penggemar drama-drama romantis ala-ala korea atau taiwan. Saya bahkan baru tahu kisah cinta Rangga-Cinta saat semester 2 kuliah. Novel romantis pertama yang berhasil bikin saya nangis adalah Perahu Kertas. Itupun saya baca di semester 3 kuliah. Dan saya nge-fans sama kisah cinta keduanya bukan karena romantisme ‘eksplisit’ ala-ala ftv, mereka justru terpisah jarak. Ikatan batik dan kekuatan untuk meraih mimpi bersama-nya yang bikin saya nggak bisa menahan tangis bahagia ketika pada akhirnya mereka bisa berjodoh.

Tapi, bukan berarti saya tidak pernah kena virus merah jambu.

Saya tahu bahwa sesuatu bernama perasaan ini sulit sekali dirasionalkan. Bahwa ia selalu meminta untuk memberi. Ia selalu meminta untuk memperhatikan. Ia selalu bahagia jika diperhatikan. Ia selalu rindu akan pertemuan. Ia selalu hanyut dalam ribuan percakapan. Ia yang pokoknya ingin mengejar segala sesuatunya bersama. Ia yang pokoknya ingin bertumbuh bersama. Ia yang pokoknya ingin bisa menjadi lebih baik bersama.

Ia yang-tidak bisa dipungkiri-indah.

Namun kemudian, seiring bertumbuhnya seorang saya, lingkaran-lingkaran sekitar terasa mulai ‘aneh’ dalam percakapan mengenai perasaan ini.

Perasaan ini mulai disandingkan dengan hitung-hitungan matematika. Tentang target penghasilan perbulan, kemapanan materi, strategi menabung, dan lain sebagainya.
Perasaan ini mulai disandingkan dengan aspek-aspek sosial. Tentang suku, jumlah saudara, bibit-bobot-bebet keluarga, dan lain sebagainya.
Perasaan ini mulai disandingkan dengan tugas dan peran. Tentang tanggung jawab, kepatuhan, hak serta kewajiban.

Pada akhirnya, saya mulai merasa perasaan ini kemudian semakin dinilai sebagai sesuatu yang sifatnya jadi transaksional.

Ini peta hidupku, mana peta hidupmu? Jadi kita bisa bersama atau tidak?
Ini riwayatku, mana riwayatmu? Jadi kita cocok tidak?

Masalah jodoh-jodohan dan perasaan-perasaan ini menjadi entah kenapa terasa rumit.
Masalah perasaan ini kemudian dituntut untuk dirasionalkan.
Dituntut untuk jika tidak rasional ya sudah tingggalkan dan selesaikan saja.

Apakah bisa semudah itu?
Apakah benar bisa dilogikakan seperti itu?

Dan pertanyaan besar saya pada akhirnya adalah:
Ketika pada akhirnya memang berjodoh, jika paradigma perasaan yang transaksional ini masih ada, apakah perasaan-perasaan itu masih bisa terasa sama indahnya? Apakah perasaan itu bisa tetap meminta untuk terus memberi tanpa ‘menagih’ untuk benar-benar meminta diberikan haknya?

Entahlah.

Menurut saya, perasaan inilah yang justru seharusnya melahirkan komitmen. Perasaan inilah yang pada akhirnya seharusnya menumbuhkan tanggung jawab. Perasaan ini, yang jika dijaga dengan baik akan bisa diperjuangkan dengan cara yang baik pula. Perasaan ini, yang jika dijaga dengan baik akan memperjuangkan. Perjuangan untuk bisa mewujudkan kebersamaan atas izin-Nya. Akan sangat sulit jika dipaksakan sebaliknya.

Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus.
anugerahi kami dengan pemahaman-pemahaman yang baik.
Aamiin.

One thought on “Merasionalkan Perasaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s