Pada suatu hari di tahun 2014, sedang ada acara masak-masak di kontrakan saya. Menu utama hari itu adalah Sushi, pesertanya tak lain adalah para petualang liburan ke Jepang tempo hari, Teh Tuti, Zego, dan Riandra. Sayang Amei tidak bisa ikut karena sedang ada yang harus dikerjakan hari itu.

Setelah selesai masak dan makan, para pria kemudian menawarkan untuk jadi yang mencuci piring-piring dan peralatan masak yang kotor. Saya hanya mendampingi, memastikan bahwa mereka mencuci piring dengan benar #eh.

Di antara Rian dan Zego, saya lupa siapa yang bertugas menyabuni dan siapa yang bertugas membilas. Tapi yang saya ingat, saat proses cuci piring itu, Zego mengajukan pertanyaan yang (seperti biasa) aneh unik:

Kenapa kalo nyuci piring harus semua bagian disabunin? ‘Kan yang dipake cuma bagian dalamnya aja. Kenapa bagian luarnya harus disabunin juga?

Hoho.

***

Memang sih, yang jelas kotor bagian yang terpakai saja. Namun, siapa yang bisa memastikan bahwa tidak ada kuman yang menempel saat si piring di letakkan di lantai? Siapa yang bisa menjamin bagian bawahnya bersih setelah kita pakai? Ketika si piring ditumpuk satu dengan yang lainnya setelah makan, pasti ada saja noda-noda yang bersinggungan antara bagian dalam satu piring dengan bagian luar piring lainnya. Begitu juga dengan gelas, botol minum, dan teman-temannya.

***

Kemudian, saya jadi kepikiran.

Sebagai makhluk sosial, kita akan minta maaf kepada orang lain ketika kita merasa bersalah. Anggaplah kesalahan kita itu adalah noda x di hati orang tersebut. Kemudian kita minta maaf kepada orang itu, dan hilanglah sudah si noda x itu dari hatinya. Tapi, apakah kita bisa memastikan tidak ada noda y, z, s, r, n, a, b, dan seterusnya yang pernah kita perbuat kepadanya? Bagaimana ya nasib si noda-noda itu?

Mungkin, seperti piring yang harus disabuni semua bagiannya ketika dicuci, kita tidak hanya perlu meminta maaf ketika kita merasa salah. Sadar tidak sadar ‘kan kita pasti pernah saja berbuat salah kepada orang lain..

Karena itu, semoga kita terhindar dari sifat enggan meminta maaf. Jika ketika jelas-jelas salah saja kita enggan meminta maaf, bagaimana ceritanya dengan kesalahan-kesalahan yang tidak kita sadari?

Mengutip sebuah ungkapan:

“Meminta maaf tidak selalu berarti bahwa Anda salah dan orang lain benar. Meminta maaf berarti bahwa Anda menghargai hubungan Anda lebih dari ego Anda”

Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kita nikmat hati yang lapang serta lisan yang baik.
Semoga Allah senantiasa melembutkan hati-hati dan lisan-lisan kita.
Dan semoga juga, kita tidak menjadi orang-orang yang memupuk noda-noda di hati kita.
Semoga kita senantiasa rajin membersihkan hati kita, memaafkan tanpa menunggu sebuah permintaan maaf.

Aamiin…

***

terima kasih untuk hati dan lisan yang senantiasa baik…
一緒に良い人になりますように,
~wk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s