Nak, Kamu Ingin Punya Ibu Seperti Apa?

Selamat malam, dear…

Nak, malam ini aku baru saja banyak mengobrol dengan ibu-yang kelak akan kau panggil nenek-tentang banyak hal. Malam ini, aku akhirnya kembali membuka laptop-yang sudah dibiarkannya tergeletak hampir tiga hari. Malam ini, aku sedang ingin banyak berpikir jauh ke depan. Jadi, boleh ya aku menyapamu sebentar?

Nak, aku sedang banyak sekali berpikir. Dan jika saja aku bisa menyapa dan bertanya padamu.. Kamu ingin punya ibu yang seperti apa?

Nak, aku seorang sarjana komputer sekarang.. Apakah kamu tidak apa-apa jika aku adalah seorang ibu yang bisa menceritakan padamu banyak hal soal bagaimana komputer berjalan? Yang berpikir prosedural dan algoritmis. Yang bisa mungkin membuatkanmu game sederhana, mengajarimu bagaimana memecah-mecah masalah, bermain kodifikasi, dan menciptakan kode-kode rahasia? Mungkin, kita bisa bermain treasure hunt bersama..

Jika aku adalah seorang ibu yang akan pergi di setiap paginya dan baru pulang di hampir sore hari, apakah kamu tidak apa-apa?

Jika aku adalah seorang ibu yang akan sering pergi meninggalkanmu di rumah untuk waktu yang cukup lama, apakah kamu tidak apa-apa?

Nak, kamu ingin punya ibu seperti apa?

Ah, tapi ibuku tak pernah bertanya padaku aku ingin ibu seperti apa.
Tapi aku memperoleh hampir semua yang aku inginkan, nak.

Nak, aku masih banyak sekali belajar. Masih melakukan banyak sekali percobaan. Masih banyak berwacana.
Masih sering sekali sulit bangkit dari kasur jika sudah begitu lelah…
Padahal.. ah, lelahku saat ini tidak akan ada apa-apanya..
Iya, seperti ibuku yang selelah apapun akan tetap selalu bertanya: “Uni sehat?”
Apa kamu juga ingin ibu yang seperti itu, Nak?

Nak, aku masih sering sekali malas..
Malas memuroja’ah hafalanku sendiri. Malas mengulang kembali apa yang kuasumsikan sudah kuketahui.
Padahal.. ah, aku ingin sekali bisa menjadi guru pertamamu, nak.
Kamu juga ingin sekali bukan, kutemani mengenal huruf hijaiyah sampai bisa menghafalkannya? Kamu juga ingin sekali bukan, bisa mengenal Islam secara utuh.. Bisa menjadikannya bagian dari kehidupanmu.. Bisa mengenal-Nya melaluiku..
Iya, seperti dulu ibuku menemaniku menghafal, menemaniku mengaji, beliau yang membuatku bisa mencintai Al-Qur’an. Beliau yang tak pernah absen khatam Qur’an di tiap Ramadhannya..
Apa kamu juga ingin ibu yang seperti itu, Nak?

Nak, aku masih sering sekali sok tahu…
Membaca sedikit saja kadang aku sudah merasa puas. Sudah bisa berargumen sedikit saja kadang aku sudah merasa bangga..
Padahal.. ah, aku ingin sekali jadi orang pertama yang bisa menjadi tempat menampung pertanyaan-pertanyaan anehmu nanti. Seperti dulu aku bertanya kenapa gajah menangis? Kenapa pesawat bisa terbang?
Aku ingin bisa menjawab setiap kenapa, apa, di mana, siapa, dan bagaimanamu..
Tapi jikalaupun kita harus mencari jawabannya sama-sama, kamu tidak apa-apa kan, Nak?
Nak, aku tidak ingin dilihat sebagai orang pintar. Tapi aku ingin menggunakan kepnitaran itu, Nak. Ingin bagaimana ilmunya bisa bermanfaat…

Nak, aku masih sering sekali malas memikirkan diriku sendiri..
Aku masih juga tak rajin meminum vitamin. Masih juga sesekali abai merawat tubuhku. Masih juga sering membiarkan mataku tak juga terlelap hingga larut. Masih selalu sulit memaksakan diri berolahraga..
Padahal.. ah, aku ingin sekali kamu selalu sehat. Ingin semua kebutuhan lahirmu terpenuhi.
Tapi, jika soal mengajarimu banyak permainan olahraga, tak apa ‘kan jika kubiarkan seseorang yang kelak akan jadi ayahmu-yang aku belum tahu siapa-yang melakukannya? Aku sungguh tidak lihai, Nak.

Nak, aku belum bisa memasak banyak menu..
Aku perlu berkali-kali latihan menanak nasi untuk membuatnya cukup pulen untuk dibuat sushi. Ya, Nak, aku pernah menanak nasi terlalu keras, terlalu lembek, hingga tak enak digulung nori. Memasak udang kurang matang. Memasak spagetti masih terlalu kenyal. Memasak orak-arik telur yang tidak enak. Memasak tempura yang gosong. Memasak agar-agar yang tidak manis. Dan entah berapa banyak sekali kegagalan yang kulakukan.
Padahal… ah, aku ingin sekali kamu hanya memakan masakanku, Nak..
Karena di luar sana aku tidak tahu bagaimana mereka memasak. Bagaimana kamu akan memilih makanan yang akan kamu makan. Aku masih butuh banyak belajar…

Nak, aku tahu bahwa tugas dan cita-citaku adalah menjadi seorang pendidik.
Aku ingin bersamamu..

Tapi, Nak.. Ada satu hal yang kini masih menjadi teka-teki bagiku…

Tugas dunia seperti apa yang Allah hendak berikan padaku? 

Nak, aku masih jauh dari sempurna.
Nak, jadi kamu ingin ibu seperti apa?

***

Nak, sampai hari di mana kita dipertemukan nanti, aku masih terus belajar tidak apa-apa ya?
Sampai hari di mana kita dipertemukan nanti, aku masih sibuk mencari tugas lainku tak apa ya?
Semoga Allah mengizinkan kita untuk bertemu…
Allahumma aamiin…

***

Bandar Lampung, ketika Ramadhan ternyata tak lama lagi akan meninggalkan kita…
Terinspirasi dari “Nak, Kamu Ingin Punya Ibu yang Seperti Apa?” oleh Fitri Hasanah Amhar
Tergerak setelah membaca Lean In oleh Sheryl Sandberg*.

*) Saya cukup menikmati dan belajar beberapa konsep dari buku tersebut. Namun, merasa cukup tidak setuju dengan salah satu konsep yang menyatakan bahwa perempuan tidak sepatutnya berpikir terlalu panjang, terutama soal keluarga dan anak, padahal pacar saja belum punya. Entahlah, bagi saya, menjadi seorang ibu tetap adalah profesi paling berat sedunia, untuk seorang perempuan. Yang tentu, tidak boleh diabaikan persiapannya. Ya ‘kan? Apalagi.. amanah ini tidak diberikan kepada semua perempuan di dunia..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s