Ragu

Dulu, saya pernah terdiam di satu check point yang sangat sulit. Pilihannya hanya dua:
1. Mundur secara teratur untuk saat ini, mempersiapkan diri terlebih dahulu dengan berjalan ke arah yang berbeda dan diam, untuk kemudian di suatu waktu (yang dirasa tepat) nanti baru memilih maju jika memungkinkan.
2. Maju untuk berdamai sekarang juga, mempersiapkan diri namun dengan sambil mengikuti segala ritmenya, berjuang sekuat tenaga apapun risikonya nanti.

Akhirnya saat itu saya kekeuh memilih yang kedua. Karena saya tidak ingin kalau waktu yang dirasa tepat itu nanti ternyata tidak nyata adanya. Tidak ingin, jika akhirnya malah menyisakan kenangan aneh dan penyesalan.

Beberapa waktu ini, ada hal aneh yang terjadi. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang kemudian muncul. Akhirnya saya mulai mengidentifikasi adanya perasaan ragu dengan pilihan saya itu. Ragu, akan se(suatu/seorang) yang sudah sangat saya percayai.

Saya mulai bertanya: “Apakah keraguan ini muncul karena saya menyesali pilihan kedua saya itu? Apakah ini pertanda bahwa sebenarnya seharusnya sejak awal saya memilih si nomor satu?”

Saya banyak bergeming jika kebetulan dibenturkan dengan hal itu lagi.

Namun kemudian, malam ini saya mendengar sebuah pernyataan:

“Nggak mungkin lo percaya tanpa meragukan terlebih dahulu. Lo bisa dikatakan memercayai sesuatu ya karena lo pernah merasa ragu akan hal itu, kemudian mencari bukti bahwa ‘oh iya, itu bisa dipercaya’. Harus ada bukti. Kalau bisa tiba-tiba percaya, itu pasrah namanya, nerima-nerima aja”

Redaksinya tidak persis seperti itu. Namun cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya selama ini. Saya ragu bukan karena saya menyesal. Saya ragu bukan karena saya tidak percaya dengan pilihan saya. Saya justru saat ini sedang ragu untuk membuktikan. Untuk memperkuat kadar percayanya.

Sekarang, pertanyaannya adalah: Jika buktinya menyatakan bahwa si nomor satulah yang seharusnya dipilih, apa yang akan Anda lakukan, ci?

Saya belum bisa menjawabnya. Yang saya yakini adalah, kecenderungan hati juga datang dari Dia Sang Pemilik Kepastian. Pasti ada rahasia dibalik kenapa saya dicondongkan untuk memilih si nomor dua. Dan semoga pemahaman itu tidak datang terlambat. Semoga juga, saya bisa senantiasa dibantu untuk membuktikan bahwa pilihan itu tidak salah..

Dan di akhir semester ini, adalah deadline-nya. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s