Naruto dan Secangkir Susu Cokelat Panas Sore Ini

Akhirnya saya memilih susu cokelat panas untuk sore ini. Secangkir susu cokelat panas yang malah jadi mengingatkan banyak hal. Seketika jadi ingat Bandung. Dan jadi ingat Naruto. #ganyambung

Saya teringat soal pertempuran Naruto dan Sasuke kecil di air terjun. Pertempuran saat Naruto berusaha menahan Sasuke untuk tidak pergi ke tempat Orochimaru. Satu adegan yang mengena bagi saya adalah saat Naruto menahan Sasuke dengan kata-kata bahwa dia tidak boleh pergi hanya untuk membalaskan dendamnya ke Itachi. Lalu Sasuke membalas kata-kata Naruto dengan:

Kau tahu? Keluargaku dibunuh oleh laki-laki itu! Ayahku, ibuku! Apa kau tahu bagaimana rasanya, Naruto? Tidak, kau tidak tahu rasanya kehilangan keluarga, Naruto. Kau tidak akan mengerti karena sejak dari awal kau tidak pernah punya keluarga!

Sasuke benar sih. Naruto tidak akan pernah tahu rasanya. Tapi di sisi lain, Sasuke juga tidak pernah tahu bagaimana rasanya jadi Naruto. Sasuke tidak tahu bagaimana rasanya tumbuh tanpa ayah dan ibu. Dikucilkan sejak dulu karena ada monster Kyubi bersarang di tubuhnya. Tidak punya teman, selalu disalahkan karena berbuat onar. Yaa Sasuke tidak tahu rasanya.

***

Postingan ini seperti menjawab pertanyaan saya di postingan sebelumnya…

Sebahagia apapun orang lain terlihat, sebanyak apapun hal yang ia capai dan miliki, kita tidak akan pernah merasakan 100% apa yang dia rasakan. Mungkin jika bertukar kehidupan itu mungkin terjadi, kita malah tidak akan sanggup menjadi dia.

Setiap orang punya ceritanya masing-masing. Semua sudah ditentukan kadarnya, sudah ditentukan jalan ceritanya. (Q.S. An-nisa: 32)

Setiap keluarga juga punya ceritanya masing-masing.

Pada akhirnya mungkin cerita ini yang akan membuat kita kembali menapak di bumi yang berbeda. Berjalan terpisah di jalan kita masing-masing. Semakin dewasa kita, akhirnya kita sadar bahwa tidak selamanya berjalan bersama adalah yang terbaik. Tidak selamanya kehadiran secara fisik adalah solusi. Sering, malah do’a panjang sederhana saja yang dibutuhkan. Kita punya cerita kita sendiri. Kita punya orang-orang berbeda yang ingin kita bahagiakan.

Takut? Sangat.

Tapi.. selama ridho-Nya menjadi tujuan dan ridho mereka ada di tangan.. Selama kita selalu berjuang memberikan yang terbaik.. Insyaa Allah, akan selalu ada janji akhir cerita yang terbaik bukan?

Dan jika pada akhirnya jalan-jalan itu tidak kembali dipersilangkan, semoga senantiasa diberikan keikhlasan..

Allahumma Aamiin

***

Walaupun saya sudah lupa bagaimana caranya belajar sendirian,
BESOK HARUS TETEP A NGGAK MAU TAHU. HOHOHOHO. AAMIIN

***

Semangat🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s