Akhirnya!

Tinggal satu bulan lebih dua hari lagi waktu yang saya punya di kampus ini. Minggu ini adalah minggu terakhir kuliah, yang isinya tinggal presentasi-presentasi, beberapa submisi final project dan report, daan listening test.

‘Tinggal’?

Hey, ternyata tidak. Justru akhirnya, ‘kuliah’ sebenarnya baru saja dimulai.

***

“Apa pelajaran yang lo dapat dari exchange? Selain kuliah ya”

Pada minggu-minggu awal exchange, saya masih exited dengan banyak hal. Fasilitas di sini. Banyak hal yang lebih rapi, teratur, dan terorganisir, dan lain-lain.

Tapi hey. Pada akhirnya, exchange bukan soal berapa baris kode dengan bahasa pemrograman berbeda dari yang biasa dipakai di Fasilkom. Bukan laporan-laporan tugas yang sekarang ditulisnya dengan bahasa Inggris. Bukan juga kuliah dan tutorial yang full conducted by English. Bukan juga belajar mata kuliah-mata kuliah yang nggak ada di Fasilkom. Bukan hanya sekadar soal teman-teman sekelompok dengan native language yang masing-masing berbeda. Bukan (apalagi) soal akses yang super mudah ke berbagai jurnal ilmiah.

Exchange itu soal jadi beda dengan orang-orang sekitar. Exchange itu, ‘kuliah’ ekstrakulikuler soal hidup. Soal keterasingan. Soal memulai semua dari nol. Soal adaptasi. Soal teguh dengan prinsip-prinsip yang dimiliki diri sendiri. Soal percaya bahwa ada saatnya kita memang cuma bisa berdiri di atas kaki sendiri. Soal berada di luar zona nyaman. Soal yakin dengan apa yang kita anggap benar. Soal jadi manusia yang jauh lebih baik. Practically, not only theory

Sial, hari ini saya benar-benar marah. 

Setelah berbulan-bulan, hari ini puncaknya saya gemas sekali.

Setelah seminggu penuh berhasil memenuhi janji, hari ini saya langgar sendiri: saya mengeluh lagi.

Tapi justru, akhirnya… saya tertantang. Akhirnya ada sesuatu yang menyala-nyala yang ingin saya buktikan pada semua orang. Akhirnya saya sadar ternyata saya punya banyak prinsip dan keyakinan yang tidak bisa diganggu-gugat. Ya, seorang saya yang biasanya hanya menyimpan segalanya di kepala.

***

“Suci, satu hal yang pakcik suka dari Indonesia adalah.. Banyak orang pintar di Indonesia yang peduli dengan negaranya dan berkesempatan untuk berkontribusi untuk negaranya. Indonesia semakin maju ‘kan? Pakcik juga suka pelajar Indonesia. Mereka pekerja keras…

Suci, kemajuan daripada kebendaan sahaja tiada guna… Kemajuan sumber dayalah yang paling penting.”
– Ayahanda dari roommate saya, seorang professor di University Malaya

Selama ini, semua keluhan soal “UI, world class university?” itu hanya soal “SIAKNG nge-down” lah, atau “WiFi lambat” lah, atau apa saja yang sifatnya kebanyakan kebendaan. Tapi.. Percayalah, dengan sumber daya kita, selama mahasiswa-mahasiswa yang di dalamnya masih banyak yang peduli dengan kemajuan negeri ini.. Masih haus akan inovasi… Masih percaya bahwa perubahan ke arah yang lebih baik itu masih ada… Universitas Indonesia pantas dan layak untuk bisa masuk 200 Universitas terbaik dunia. Percayalah. (Makanya jangan kebanyakan ngeluh soal fasilitas doong..)

Semoga kenaikan harga BBM yang katanya akan banyak dialokasikan ke infrastruktur itu juga tidak luput dari memajukan kualitas sumber daya manusia di Indonesia juga. Aamiin.

Dan semoga… Idealisme kita sebagai mahasiswa nggak cuma berakhir di bangku kuliah saja.. Tapi dibawa juga sampai nanti terjun ke masyarakat. Sampai mati.

Selangor, 15 Desember 2014
Tepatnya di lab rangkaian UKM
Mengetik dengan menggebu-gebu
Ternyata saya idealisnya lumayan akut juga…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s