Online Communication: The Poker Face

Thanks to information and communication technology. 

Sekarang manusia nggak kenal jarak dan waktu lagi untuk berkomunikasi.
Kadang bahkan ada yang lupa sama batasan privasi.
Tak ada alasan untuk merasa sendiri.
Karena kapanpun di mana pun di sosial media mana pun bisa jadi tempat diskusi.
(dan Suci pun mencoba sedikit berpuisi)

Dengan teknologi, jarak seakan tiada berarti
Dengan teknologi, waktu seakan bisa dipaksa mengerti(yak malah nyanyi)

***

Dulu, saya percaya bahwa saya adalah seorang manusia introvert yang akan lebih bisa menyampaikan pikiran-pikiran saya melalui komunikasi tertulis. Saya lebih bisa mengutarakan perasaan saya lewat tulisan. Saya bisa lebih bisa berbagi dan menyusunnya secara lebih sistematis daripada harus mengutarakannya langsung..

Dulu, seringnya saat ada forum diskusi saya selalu ragu-ragu. Lalu baru setelah forum akan menyampaikan pesan ke si empunya forum lewat sms atau chat. Atau jika merasa bersalah, saya akan lebih bisa mengutarakan permohonan maaf saya lewat tulisan… Begitu pun jika mengutarakan ekspresi senang dan gembira akan sesuatu.. Sampai-sampai saya merasa lebih ‘cerewet’ di berbagai komunikasi online..

***

Saya sekarang ada di beratus-ratus kilometer jauhnya dari orang-orang terdekat.

 

Saya rindu..
saya rindu membaca air muka lawan bicara saya…
saya rindu menebak makna dari sorot mata…
saya rindu dengan senyuman sumringah saat mereka memang sedang dalam kondisi bahagia…
saya rindu dengan intonasi tawa..

Bahkan saya rindu dengan perdebatan.

I want to communicate…“communicate not just in the sense of issuing commands but also in the sense of encouraging and cajoling and calming and negotiating and sharing information in the clearest and the most transparent manner possible” (Malcomm Gladwell, Outliers, p223)

I want to effectively communicate, in the right time and in the right way with them..
Yang tidak mengganggu, yang tidak menyakitkan, yang mengena, yang efektif, yang bernyawa…

Ya, Om Earl Wilson benar:

“Science may never come up with a better office communication system than the coffee break”

Pada akhirnya saya sadar bahwa..
Ada lebih banyak perasaan-perasaan yang tersembunyi dibalik setiap kata yang tercetak di layar. Setiap emoji, sticker, emoticon..

Poker Face.

Ya… manusia memang berbeda, ci. Tapi yang manapun itu. Bagaimanapun gaya komunikasi kita. Lebih bisa berkomunikasi secara langsung maupun tertulis..

“… people will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.

Maya Angelou

Maaf ya…

Selangor, 11 Oktober 2014
Di trial ke-6 menunggu program running untuk mengolah (baru) 130 MB data
(salah satu) efek tidak pernah berhasil membuat LINE call ke rumah…

2 thoughts on “Online Communication: The Poker Face

    1. memang sedih so udah nge-run program yang sekali nge-run-nya 3 jam ampe 6 kali masih salah juga T_T *lagi nge-run yang ke-7* #bukanyangitunyaci

      hehe, semangat ya Nasha!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s