Bumi Kita

“Ci lo ngapaain di Malaysiaa? Bukannya lo maunya ke Jepang?”

“Why did you choose Malaysia? If you said that you do not want to only study and want to explore the cultures, Indonesia and Malaysia are quite similar, aren’t they?”

“ciee selamat mendekat yaa”

Buat kutipan ketiga, saya cuma bisa menanggapi bahwa: masih jauh lah Jepang dari Malaysia mah. Hihi. Tapi ya, saya selalu berharap bahwa pengembaraan saya di sini bisa menjadi sebuah check point penting dalam petualangan saya.

“It’s a brand new journey!”, isn’t it? 

Sekarang, bukan Anindya Zulkarida Putri yang saya temui di kamar setiap pulang dari kampus dan yang selalu berisik bareng menggalaui banyak hal.
Sekarang, bukan Dipta Tanaya (yang sudah dapet back up sahabat buat kuliah. hiks) yang bisa saya repotkan soal banyak hal, tapi akan masih tetap cum laude bersama di 2015.
Sekarang.. ah, terlalu banyak kalau mau dibuat listnya.

Ya, banyak hal berubah. Tapi perubahan memang sebuah kebutuhan dan keniscayaan bukan?
Sampai di sini bukan dengan tanpa banyak hal yang sudah dikorbankan, ditinggalkan, dan dilewati ‘kan?
Bukan dengan tanpa pemikiran yang panjang ‘kan?

Sekarang, kita sedang berdiri di bumi yang berbeda. Di masa depan, tidak ada yang bisa memastikan apakah bumi perjuangan kita akan kembali sama atau tidak. Apakah di masa depan batas waktunya nyata atau tidak. Apakah kita bisa kembali saling merepotkan atau tidak.

Mungkin ada saatnya kita akan egois dengan urusan bumi kita masing-masing. Mungkin kita akan menjadi saling bersikeras tentang siapa yang paling berjuang. Mungkin saja kita pada akhirnya akan saling membandingkan.

Tapi saya yakin, akan tetap ada banyak hal yang tidak bisa berubah. Kita akan selalu berpandangan lurus ke depan, ke tujuan kita masing-masing. Kita akan menjadi lebih baik di tempat kita masing-masing. Kita akan selalu bisa menemukan arti dari sebuah perjalanan, perjuangan, pengorbanan, kerja keras, bahkan sebuah perpisahan. Kita akan tetap percaya, di bumi manapun kita berpijak. Berusaha, sambil terus bertawakal akan cerita yang sudah dirancang oleh-Nya. Kita akan selalu tersenyum. Ya, kita pasti bisa. Aamiin.

Dan Allah Yang Maha Baik, akan selalu melindungi serta memberikan yang terbaik untuk kita semua. Allahumma Aamiin.

Bukan begitu?🙂

Ganbatte! Labasparato! Semaaangaaat! 

 

Selangor, 12 September 2014
Suci, yang (masih) menghitung 1-60 berulang kali di kalendernya, sambil melamuni si cetakan yang masih menganggur.

4 thoughts on “Bumi Kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s