Lebih Dari Setahun Yang Lalu

“Ketika seseorang percaya, ia akan bercerita. Ia yang akan memulainya. Dan dia tahu konsekuensinya saat memutuskan untuk bercerita. Jadi, jangan mulai duluan dengan menanyakan dan menyatakan hal yang mengungkit ungkit kesedihannya. Kamu gak akan pernah benar benar tahu seberapa sedih orang itu. Kamu gak akan pernah tahu seberapa menyebalkan kalimat basa basimu yang menggagalkan redamnya kesedihan itu. Kamu juga gak akan pernah tahu bahwa bercandaanmu, sungguh tidak lucu.”

-Teh Tuti

Teh, I truly learn something new from it. But It also broke my logic. Kind of.
This paragraph was really surprised me.

Even if just one question like: “is everything okay?”?
Even if just because I want to listen. want. really. anything. to comfort?

Teh, Is the only thing that I can do, is just to let everything goes like nothing happened?

Just add more words, please, teh:

“…Segera layangkanlah do’a terbaikmu untuknya, kepada Sang Penyembuh Kesedihan. Itu sudah lebih dari cukup”

And…

“biarin semua jadi rahasia”

***

19 Agustus 2014

Gw kira semua ‘sudah pernah’ ini sudah lewat. habis. hilang ditelan bumi. atau menguap. atau paling nggak kabur ke Timbuktu. ketemu Donald Bebek, main sama tiga keponakannya, di rumah paman Gober.
Karena bahkan nggak pernah gw izinkan tertinggal di sana sedetik pun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s