#SetahunDariSekarang – 8. Financial Management and Planning

Honestly, dulu saya sangat tidak suka dengan uang. Bagi saya uang hampir menjadi tersangka utama dari berbagai macam hal-hal negatif di dunia ini. Anak kecil bisa meninggal terinjak-injak karena uang. Orang-orang kecil tertindas karena para pejabat ingin uang lebih dari rakyat–korupsi. Pedagang menipu pembeli karena uang–demi untung lebih. Persaudaraan bisa penuh dengan prasangka dan salah paham, karena uang. Tidak bisa mendapatkan pendidikan dan jaminan kesehatan yang layak, karena uang. Sayang, hampir semua aspek kehidupan manusia tidak bisa lepas dari kebutuhan akan uang. Dan semua orang, butuh uang. Dan saya, sebagai manusia, juga butuh uang.

Uang hanya tools. Hanya tools yang nggak harus dikejar-kejar. Dia akan datang sendiri selama kita tetap berusaha dan memberikan yang terbaik. Begitu pikir saya.

Lalu, saya pernah sampai di titik dimana saya hampir tidak bisa menilai seberapa besar harga benda bernama ‘uang’ itu. Saya jarang peduli soal habis uang berapa untuk sesuatu yang menurut saya benar-benar berarti dan penting. Di satu sisi, saya bisa jadi tampak boros. Tapi di sisi lain, untuk hal-hal yang saya rasa tidak begitu penting (ke Mall tiap bulan sekadar cuci mata misalnya, atau makan di resto-resto mahal, dsb), saya akan sangat memperhitungkan ‘saldo’ yang saya punya, sehingga akhirnya kadang dinilai terlalu berhemat. Karena mungkin, selama ini saya hanya mengenal paradigma: “pokoknya menabung, save, save, save. Atur pengeluaran pemasukan. Karena kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan lo ya cuma lo yang bisa ngatur, ci. Gimana mau ngasih klo untuk kebutuhan sendiri aja belum bisa mencukupi sendiri. Gimana mau berbuat lebih. No foya-foya, kebutuhan lo banyak. Lo sulung ci, nabung”. Nabung. Nabung. Saya berhitung, bukan soal bagaimana bisa mencari atau memperbanyak sumber uang yang datang, namun dengan berusaha semaksimal mungkin me-manage apa yang bisa dan telah diperoleh sekarang dengan segala kebutuhan yang ada (baik untuk diri sendiri maupun untuk orang sekitar). Bisa mengerjakan apa yang sekarang saya pilih untuk dijalani dengan tetap merasa cukup, plus manajemen yang baik untuk mengelola yang alhamdulillah sudah diperoleh, itu saja.

But finally, jika selama beberapa waktu ke belakang teknik manajemen keuangan seperti ini masih aman-aman saja, pada saat ini, banyak pertanyaan dan pernyataan baru yang muncul seperti:

“Kalau nanti habis lulus mau langsung kerja, emang targetnya mau yang gajinya berapa sebulan?”
-seorang sahabat yang tiap kalau diajakin ngomongin soal uang atau bisnis-bisnisan selalu nantangin melakukan perhitungan matematika sederhana
Nah loh, selama ini saya berharap bisa tetap mengerjakan sesuatu yang saya suka dan saya bahagia karenanya tanpa harus menilai-nilai berapa uang yang akan saya dapatkan. Kalau kerja, nggak bisa gitu ya?

“Kalau nanti sudah saatnya berkeluarga, kebutuhannya nggak cuma soal satu kepala. Kamu bakal punya anak, cus. Bahkan biaya buat pernikahan aja tuh udah gede banget ya. Aku jamin deh, nggak bisa kalau cuma mau mengandalkan tabungan aja, apalagi kalau nanti kita kerjanya yang pemasukannya itu nggak pasti tiap bulannya. Pokoknya sebagai perempuan tetep harus kreatif soal sumber-sumber pemasukan keluarga. Kalau nggak gitu, kita yang harusnya jadi solusi buat masyarakat bisa-bisa malah jadi masalah buat orang-orang sekitar kita!”
-seorang sahabat lainnya yang minatnya soal mengajarkan financial planning ke orang-orang
Nah loh, tuh kan. Tapi tapi prinsip nggak harus kaya untuk berbagi itu gimana dong?

“Kalo kayak gitu, adanya kamu menekan diri kamu dan internal keluarga kamu”
-seorang teman lainnya
Orang-orang yang justru harusnya saya utamakan…

“Rupiah lemah dimana-mana sih suc. Wkwkwk”
Nah loh, terus urusan melihat dunia kumahaa?

Saya mau bisa sering-sering pulang bertemu keluarga. Saya mau bisa berbuat lebih banyak untuk orang lain. Saya mau bisa membantu orang-orang sekitar saya. Saya tidak ingin jadi tamak, saya ingin ‘kaya’ dalam kemuliaan hati, tak hanya harta yang berkecukupan…

Yah, pada akhirnya, saya tidak lagi ingin melarang-larang si adek ganteng soal keputusan kegiatan yang sedang digandrunginya sekarang. Daaan.. financial management and planning adalah salah satu hal yang tampaknya tak akan luput dari perhatian saya sekarang.

Soal ketidaksukaan saya dengan uang di masa lalu? Hmm,
prinsip saya masih sama: “Berbagi itu bukan perkara mampu atau tidak”, menabung dan manajemen yang baik harus tetep jalan. Tapi, sedikit mengutip:

“Uang memang bukan segalanya, tapi dengan uang, seorang muslim dapat bermanfaat lebih dibanding muslim lainnya. Islam tidak mengajarkan untuk serakah, tapi Islam mendorong kita untuk menjadi kaya, menjadi kaya untuk dapat berdampak lebih besar dalam menebar manfaat dan mengajak dalam kebaikan.”
– FUKI Corp Keluarga Matahari FUKI Fasilkom UI 2013

*ngintip di LPJ EAT #eh*

Yosh. Semoga sharing malam ini bermanfaat. Daan.. bismillah..

Di salah satu pulau terbesar di Indonesia, 7 Agustus 2014
Suci, yang sedang tidak bisa tidur

9 thoughts on “#SetahunDariSekarang – 8. Financial Management and Planning

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s