Sang Pengendara

Aku disini, seperti biasa
Aku disini, di sebuah tempat pemberentian
Menunggu
Menunggu seorang pengendara

Jangan coba-coba berhenti dan menawari aku naik
Jika muatanmu sudah sangat penuh, wahai pengendara
Bagaimana mungkin aku bersedia naik
Berdesakan dengan orang-orang yang sudah kau biarkan naik sebelumku

Karena aku ingin tempat yang spesial, wahai pengendara
Tempat yang akan membuatku nyaman hingga sampai tujuanku
Karena aku tidak akan sudi berbagi dengan siapapun
Karena aku tidak ingin tersentuh siapapun

Jangan pula coba-coba kau berhenti dan menawariku naik
Jika kau begitu kosongnya
Bagaimana mungkin aku tidak takut dan ragu kemana kau akan membawaku
Jika bahkan tak ada tempat khusus yang terisi untuk Tuhanmu, ayah ibu serta kakak adikmu

Karena aku ingin tempat yang hangat
Tempat yang akan memberikan banyak pemahaman baru untukku
Untukku yang butuh diarahkan
Untukku yang butuh dijaga dalam sebuah lingkaran yang baik

Aku tidak menunggu seorang pengendara angkutan umum
Yang bisa singgah di setiap tempat pemberentian
Menawari naik banyak orang
Kemudian menurunkan mereka di suatu tempat hanya untuk sekadar transit

Aku tidak menunggu seorang pengendara angkutan umum
Karena aku ingin jalanku panjang
Tanpa berhenti lima menit lima menit
Tanpa mengetem berjamjam untuk kemudian mungkin ada orang lain yang naik

Tidak, aku tidak menunggu yang seperti itu

Aku menunggu tidak dengan hanya mengamati jarum jam tangan, karena aku memang tidak tahu kapan batas waktunya
Aku menunggu dengan berusaha terus menjadi lebih baik
Aku menunggu dengan berusaha produktif
Membaca buku, seperti yang mereka sarankan

Aku menunggu seorang pengendara yang membawaku menuju-Nya
Seorang pengendara yang fokus pada visi dan tempat tujuannya
Namun juga mengizinkan aku menjadi sebagai si pemegang peta
Yang bisa turut memberikan arahan kemana kendaraan ini harus berjalan

Mungkin seorang nahkoda, yang bisa meyakini aku yang takut laut ini
Bahwa bersamanya aku tidak akan jatuh, apalagi tenggelam
Atau bahkan kemudian bisa mengajariku bagaimana caranya berenang

Juni 2014
Sudah saatnya kah aku naik?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s