#SetahunDariSekarang : #3 – Hai Pelajar “Mager” :)

Selamat malam dunia!
Saya sudah masuk minggu UAS nih. seminggu super hectic yang saya kira tidak akan mampu saya lewati akhirnya berakhir dengan alhamdulillah lancar dengan terupload-nya sekian MB proyek 6 sks itu ke slot pengumpulan yang deadlinenya 23:55 malam ini. Alhamdulillah..

Kalau boleh saya berasumsi, hampir 75% pembaca postingan ini adalah seseorang yang sedang berstatus sebagai pelajar. Yang kabarnya minggu ini juga masuk ujian akhir semester kan? Dan kalau kamu anak UI, berarti kamu sedang siap begadang melahap materi satu semester untuk bertarung dalam waktu 2 jam yang menentukan grafik IPK.

Lalu, bicara soal ilmu, belajar, dan ujian.

Andai dulu Newton yang sedang duduk di bawah pohon merasa “mager” untuk penasaran kenapa bisa sebuah apel jatuh dari atas menghempas tanah, kira-kira ada nggak ya manusia yang bisa sampai bulan sekarang?

Andai dulu Giordano Bruno memilih mengubur rasa penasarannya akan teori kejamakan dunia, bahwa matahari hanyalah sebuah bintang di antara jutaan bintang lainnya, mungkin ia tidak perlu dihukum mati karena dianggap menentang gereja dengan teori-teorinya, dan hidup damai hingga kematian yang lebih layak menjemputnya. Tapi mungkin juga, Galileo kemudian tidak akan hadir dengan teleskopnya untuk membuktikan teori Bruno yang akhirnya bisa membuka mata dunia bahwa benar ada galaksi tak terbatas di atas sana. Yang tidak ada atas, bawah, tengah, bahkan ujungnya. Bayangkan betapa dangkalnya ilmu yang sampai pada kita kini jika dunia hanya soal apa yang bisa kita lihat dengan mata telanjang.

Jika dulu Al-Khawarizwi tidak mengindahkan kehadiran si angka nol yang mungkin tak berarti dahulu, tidak akan ada teori kalkulus super menjelimat (dan membuat banyak mahasiswa tidak selamat di mata kuliah ini #eh) itu. Tapi juga mungkin tidak akan ada bangunan-bangunan super kece yang bisa tahan gempa, berdiri kokoh mengapung di atas laut, atau semacamnya.

Bayangkan jika Newton, Bruno, Galileo, Al-Khawarizki, Copernicus, Ar-razi, Alfa Edison, dan ratusan penemu di zaman nenek moyang kita dulu itu berhenti mencari, “mager” untuk menjadi mengerti, lelah untuk mencoba lagi puluhan percobaannya, akan jadi seperti apa ya dunia kita kini?

Mereka dahulu, menghabiskan bertahun-tahun hidupnya untuk kenikmatan yang kita rasakan sekarang.
Di setiap kemudahan yang kita alami, ada peranan mereka.
Mereka dahulu, melewati banyak tentangan, diragukan, dan segala kerumitan lainnya untuk menciptakan kemudahan bagi kita sekarang.
Mereka dahulu, mungkin butuh mengarungi benua, mengunjungi berbagai perpustakaan untuk membaca perkamen-perkamen untuk menambah ilmu dan memuaskan rasa penasaran mereka.

Mereka dahulu tidak mengenal google.
Mereka dahulu bahkan mungkin bukunya belum ada indexnya.
Mereka dahulu mungkin bahkan begadang tanpa cahaya lampu.

Jutaan teori sudah dirangkumkan di buku yang hanya sekian ratusan halaman itu, kawan
Ribuan informasi sudan tinggal soal sepatah dua patah kata yang diketikkan di textfield dan sebuah search button
Ratusan studi kasus sudah diringkaskan pada sebuah file pdf

Maka, masihkan tetap akan “mager” atau mengeluh?
Cie, yang katanya capek nugas dan belajar
Memang udah bikin apa buat dunia?

Kalo belum pernah merasakan lelahnya belajar, harus siap untuk menikmati kebodohan kan? 

Yuk ah, selamat UAS!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s