‘Obat’

Bayangkan kalian sedang menderita suatu penyakit. Penyakit sederhana dan ringan mungkin, yang hanya dengan suatu obat dopping pereda rada sakit, rasa sakitnya akan hilang. Namun kemudian rasa sakit itu bisa muncul lagi. Sakit kepala misalnya. Anda tahu obat yang tepat untuk meredakannya. Obat disini bisa berarti luas. Obat dalam artian obat pereda sakit kepala sungguhan, atau seteguk kopi berkafein, atau yang lainnya. Yang jelas, sesuatu yang Anda pahami bisa membuat Anda bertahan dan seakan baik-baik saja saat itu. Yang sekali minum bisa segera menghilangkan rasa sakit itu, dan Anda bisa segera beraktivitas kembali. Padahal mungkin penyebab sakit kepalanya sederhana. Kurang tidur, sehingga memaksakan tetap terjaga walaupun sudah super mengantuk misalnya. Apakah Anda akan memilih untuk meminum obat pereda saja, atau membiarkan tubuh Anda istirahat dan tidak mengulangi kembali kejadian menahan kantuk yang tidak memanusiakan tubuh Anda sendiri itu?

Mungkin sebagian akan memilih tidur saja. Abaikan sementara hal lainnya. Utamakan kesehatan, masa depan dengan tubuh sehat. Anda tahu pemecahan paling baik adalah ini.

Mungkin sebagian akan memilih meminum si ‘obat’ pereda untuk sementara itu. Karena deadline tugas yang masih menumpuk, atau beribu alasan lainnya. Toh manjur dan rasa sakitnya hilang. Toh kebutuhan dirinya terpenuhi juga (kepalanya tak lagi sakit). “Force yourself to the limit”, mungkin begitu istilah kerennya. “Nanti ada waktunya juga untuk istirahat”.

Namun bayangkan jika si penyakit sederhana itu terjadi cukup sering akhirnya. Dan setiap terjadi, tubuh Anda akan secata otomatis meminta ‘obat’nya. Bayangkan sudah berapa banyak sesuatu itu menumpuk dalam tubuh Anda. Hingga tak menutup kemungkinan menimbulkan penyakit lain yang lebih berbahaya dari penyakit sederhana yang keseringan di-dopping ini.

Maka, mengapa masih bertahan akan sesuatu yang memberikan solusi yang cepat namun tidak mengakar masalah?
Maka, mengapa masih bergantung pada suatu dopping dari luar?
Maka, mengapa masih menumpuk-numpuk hingga pada akhirnya mungkin bisa menggunung kemudian tak terbendung?
Maka, mengapa berlari, menutup-nutupi?
Tidak lelahkah?
Tidak beratkah?
Asal senang sekarang, benarkah?
Tak inginkah berubah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s