Perempuan

Haha.

MERAPIKAN KENANGAN

“Maaf.”

“Untuk apa?”

“Aku t’lah ingkar janji.”

“Aku tak mengerti.”

“Apa?”

“Mengapa di dunia yang indah ini diciptakan janji? Bukankah ia hanya akan mencipta sakithati–sakithati?”

“Mengapa Tuhan menciptakan iblis?”

Kamu lalu terdiam. Aku tahu kamu selalu benci bila aku menjawab pertanyaanmu dengan pertanyaan lain. Dan wajah semi kesal yang kau sajikan, semakin mengukuhkan karakter pribadimu sebagai perempuan pemikir sederhana yang tak pernah suka dengan jawaban sederhana.

“Kau tahu, apa yang paling khas dari perempuan?”

Sebongkah batu pertanyaan kamu lempar lagi. Terlalu terlambat bagiku untuk menghindar. Kuputuskan untuk menjawabnya—sekenanya.

View original post 81 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s