[REVIEW] Perahu Kertas

Namanya Kugy. Mungil, penghayal, dan berantakan. Dari benaknya, mengalir untaian dongeng indah. Keenan belum pernah bertemu manusia seaneh itu.

Namanya Keenan. Cerdas, artistic, dan penuh kejutan. Dari tangannya, mewujud lukisan-lukisan magis. Kugy belum pernah bertemu manusia seajaib itu.

Dan kini mereka berhadapan di antara hamparan misteri dan rintangan.
Akankan dongeng dan lukisan itu bersatu?
Akankah hati dan impian mereka bertemu?

Kugy, mahasiswi baru jurusan Sastra. Perawakan: Kecil, kaos + jins, lengkap dengan jam tangan kura-kura ninja. Hobi: Tidur siang. Cita-cita: Menjadi Pendongeng. Bersama dua sahabatnya sejak SMA: Noni dan Eko, dia memulai hidupnya di Bandung.

Keenan, mahasiswa baru jurusan manajemen, sepupu Eko yang baru pindah dari Amsterdam. Perawakan: Kurus tinggi, rambut sebahu diikat, lengkap dengan ransel marun berinisial “K”. Cita-cita: Menjadi Pelukis.

Ada kekuatan besar dalam setiap dongeng yang dituliskan Kugy. Dan hanya Keenan yang bisa merasakan itu. Belum pernah ia melukis begitu banyak untuk seseorang yang baru dikenalnya. Dan akhirnya, hanya sebuah buku tulis berisikan dongeng tulisan tangan Kugy, yang bisa membuatnya bertahan untuk terus menghasilkan karya besar dan bernyawa, berkehidupan, yang seakan menyatu dengan dirinya. Sempurna membuat Kugy tak pernah bisa pergi menempati sudut kecil hatinya.

Kugy belum pernah merasa begitu percaya diri. Karena Keenan, ia kembali berani bermimpi. Semakin percaya diri bahwa dongeng adalah dunianya. Karena Keenan, ia menjadi dirinya sendiri. Kugy yakin, setiap dongeng yang dituliskannya dapat terasa semakin hidup karena ilustrasi lukisan Keenan. Keenan sempurna menjadi pangeran baginya, yang selalu dinantikan kehadirannya, walau pada akhirnya tak pernah bisa ia ungkapkan.

Perahu Kertas adalah kisah tentang dua anak manusia yang terobsesi pada suatu hal yang mereka sukai, lalu menancapkan tekad untuk menjadikannya sebagai mimpi yang harus terwujud. Tak peduli seberapa besar penolakan orang sekitar mereka akan mimpi itu, mereka yakin, jika berdua, mereka bisa melahirkan sebuah karya besar, dan membuktikannya kepada semua orang. Mereka nyambung, sejalan, saling memahami.

Tapi sayang mereka tak pernah bisa bicara soal hati. Orang lain yang sudah terlanjur hadir, kebohongan demi rasa ingin memiliki, dan dua orang lain yang sejatinya sangat mencintai mereka dan “nyata” bagi mereka adalah alasan mengapa pada akhirnya kata itu tak pernah terungkap.

Dee sempurna membawakan sebuah kekuatan magis dalam setiap kata yang membawa cerita ini, membuat sehari semalam cukup untuk saya melahap habis novel setebal 444 halaman ini. Tak semua tentang cinta, tapi juga persahabatan sejati, kejujuran terhadap perasaan sendiri, impian yang tak pernah boleh ditanggalkan, dan pentingnya menjadi diri sendiri.

Really recommended.

“Kadang kita harus berputar menjadi seseorang yang bukan kita, demi bisa menjadi diri kita sendiri lagi.”

Dan akhirnya, gw pun memutuskan untuk berdamai dengan semuanya…

2 thoughts on “[REVIEW] Perahu Kertas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s