Sunset Bersama Rosie: Tentang Sebuah Kesempatan dan Keputusan

Gambar

“Sebenarnya, apakah itu perasaan? Keinginan? Rasa memiliki? Rasa sakit, gelisah, sesak, tidak bisa tidur, kerinduan, kebencian?Bukankan dengan berlalunya waktu, semuanya seperti gelas kosong yang berdebu, begitu-begitu saja, tidak istimewa. Malah lucu serta gemas saat dikenang. Sebenarnya, apakah pengorbanan memiliki harga dan batasan? Atau priceless, tidak terbeli dengan uang, karena kita lakukan hanya untuk sesuatu amat spesial di waktu yang juga spesial? Atau boleh jadi gratis, karena kita lakukan saja, dan selalu menyenangkan untuk dilakukan berkali-kali. Sebenarnya, apakah arti ‘kesempatan’? Apakah itu makna ‘keputusan’? Bagaimana mungkin kita terkadang menyesal karena sebuah ‘keputusan’? atau sepucuk ‘kesempatan’? Sebenarnya, siapakah yang selalu pantas kita sayangi?

        Sebuah paragraf indah berisikan pertanyaan-pertanyaan yang sering terlintas dalam benak setiap individu di atas merupakan paragraf yang mengisi sampul belakang novel karya Tere Liye yang baru saja selesai saya baca, Sunset Bersama Rosie. Novel setebal 426 halaman ini berhasil mengalihkan perhatian saya dari ke-hectic-an tugas di Fasilkom dan kegiatan luar akademis. Dan secara magis pula berhasil membuat air mata saya deras mengalir tepat di halaman terakhir novel ini, sama seperti saat dulu saya membaca novel Hafalan Sholat Delisa yang juga ditulis oleh Tere-Liye.

Novel ini diceritakan dari sisi seorang Tegar, pemuda sukses yang hampir sempurna kehidupannya dengan karir gemilang di sebuah perusahaan sekuritas besar di Jakarta. Namun sayang, tak serupa dengan cinta yang terus dipendamnya selama puluhan tahun. Ia mencintai Rosie, gadis teman sejak kecilnya. Tegar telah menyiapkan momen yang tepat untuk menyatakan perasaan yang telah dipendamnya selama dua puluh tahun kepada Rosie, di puncak gunung Rinjani. Sayang, Nathan, pria yang baru dikenalkannya kepada Rosie 2 bulan sebelumnya telah terlebih dulu menyatakan perasaan kepada Rosie, dan Rosie pun menerimanya, menerima Nathan untuk menjadi pasangan hidupnya.

Tegar yang depresi meninggalkan mereka berdua, dan kemudian menghilang. Namun Tegar kemudian berdamai kepada cinta besar yang sudah lama mengikatnya sejak kehadiran Nathan dan Rosie, bersama dua buah hati mereka, Anggrek dan Sakura ke apartemennya lima tahun kemudian. Bahkan setelah Jasmine dan Lili lahir, sempurna sudah Tegar menjadi sosok Om, Paman, dan Uncle yang super dan keren bagi keempat anak Rosie dan Nathan. Dan Tegar telah menjadi sahabat keluarga ini, sahabat terbaik, yang bahkan rela menunda janji kehidupan yang diberikannya kepada gadis yang amat mencintainya, Sekar, sejak peristiwa naas itu terjadi.

Dan dari titik itulah, kisah ini dimulai…

Tere-Liye seperti biasa, berhasil mempermainkan emosi pembaca pada setiap untaian kata yang disusunnya. Meski alur cerita novel ini bisa dibilang lambat, pembaca dibawa untuk memahami setiap rasa dan pikiran Tegar, ikut hanyut dalam penderitaan dan siksa akan cintanya yang amat besar pada Rosie dan keempat anaknya, ikut mencoba memaknai apa itu “pengertian dan pemahaman cinta yang berbeda”, serta ikut mengerti apa itu pengorbanan dan keikhlasan…

Sebuah novel yang sangat recommended untuk dibaca. Dan siap-siap untuk galau, bertanya-tanya, atau mungkin terbimbing menuju kamar ‘pemahaman baru’, setelahnya.😀

Selamat membaca!

Dan pada akhirnya, kesempatan, keputusan, semua bermuara pada satu kata: TAKDIR…

Depok, 19 Maret 2012
*Makasih buat yang udah minjemin novel ini ke gw.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s