Untuk Dirimu yang Tak Pernah Kukenal

Untuk Dirimu yang Tak Pernah Kukenal
お兄ちゃんへ、あなた の かわいそう な 妹 から.
Suci Fadhilah

Senin, 9 Mei 2011.

Hari ini seharusnya genap 19 tahun umurmu. Seharusnya sejak beberapa hari yang lalu aku kebingungan memikirkan apa yang akan kuberikan untukmu hari ini. Apa yang harus kubeli? Buku science-fiction kah? Algoritma kah? Kaos olahraga kah? Tiket konser band kah? Atau hanya sebuah polo-shirt polos? Aku bahkan tak pernah tahu apa yang kau sukai. Tidak, bahkan aku tak pernah bisa membayangkan bagaimana rupa wajahmu yang harusnya pernah kutatap langsung dengan kedua mataku ini.
Aku hanya bisa mencoba menumbuhkan ingatanku tentangmu lewat foto-foto yang Ibu tunjukkan. Ibu bilang kau anak yang baik. Kau penurut dan tidak manja karena di usiamu yang baru satu tahun lima bulan, aku hadir merebut semua perhatian ayah dan ibu darimu. Dan aku ingin sekali berterima kasih untuk itu.

Lantas apa yang kutahu tentang dirimu? Bayangan yang ada dalam ingatanku hanyalah sebuah suasana pemakaman. Seorang anak laki-laki berumur tiga tahun yang dibalut dengan kafan putih dimasukkan kedalam lubang, dihantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya. Dalam bayangan itu kulihat diriku menangis sekencang-kencangnya, berteriak bertanya-tanya kenapa anak itu dimasukkan kesana? Tapi kurasa bayangan itu hanya sebuah mimpi di masa kecil, karena aku yakin, aku tak mungkin dibiarkan hadir dalam acara pemakamanmu. Siapa yang mengira bahwa kau akan pergi untuk selamanya, bahkan tepat dua hari setelah genap 2 tahun usiaku. Aku hanya anak kecil berusia dua tahun.

“Uda”, seharusnya aku memanggilmu begitu hingga hari ini. Menceritakan segala keluh kesahku, mengagumi segala talentamu, menyukai apa yang kau sukai, meminta nasihat tentang kuliahku, bersama berdiskusi tentang adik-adik kita, atau mungkin aku akan membicarakan seorang laki-laki lain yang merupakan sahabat dekatmu? Haha, mungkin, karena aku bahkan tak pernah tahu akan tumbuh menjadi orang seperti apakah dirimu?

Ya, setiap tahun, tanggal 9 mei, aku akan selalu berfikir. Seandainya kau masih ada, mungkinkah kita sekolah di sekolah yang sama? Dimana dirimu kini kuliah? Universitas dan jurusan apa yang akan kau sarankan untuk masa depanku? Seberapa tinggikah dirimu? Apa kamu akan peduli tentang siapa pacarku? Dengan siapa aku dekat? Apa kau akan selalu melindungiku? Dan…
Akan jadi wanita seperti apakah aku, jika aku tumbuh bersamamu, bersama seorang kakak laki-laki?

Aku selalu membayangkan bahwa kau akan selalu jadi juara kelas. Akan selalu jadi kebanggaan semua orang. Ayah dan Ibu akan selalu mengelu-elukan dirimu di depan kami bertiga. Aku akan sangat bangga memiliki kakak sepertimu. Aku akan selalu memintamu mengajari apapun padaku. Aku akan sangat cemburu jika dirimu dekat dengan perempuan lain seumurmu. Aku tidak akan mengizinkan teman-temanku mengidolakanmu, karena aku pasti akan selalu ingin memonopolimu! Ya, aku selalu berfikir begitu, karena kau pasti akan tumbuh menjadi laki-laki yang sangat baik. Karena Allah pun mencintaimu. Uda, aku cemburu pada Allah. Karena tanpa izinku, kini Dia-lah yang memonopolimu.

Uda, aku merindukan sosok kakak. Aku merindukanmu. Tempat dimana aku seharusnya bisa menceritakan apa yang tak bisa kuceritakan pada ibu dan ayah. Di masa lalu aku selalu menyalahkan kenapa kau pergi tanpa menyisakan satupun kenangan di ingatanku? Seharusnya aku memiliki seorang kakak laki-laki, bukan?

Aku tahu dirimu tak mungkin bisa menjawab semua pertanyaanku. Aku pun tahu tak seharusnya diriku manyalahkan apa yang sudah Allah takdirkan. Karena Allah telah menggantikan dirimu dengan memberikanku seorang adik laki-laki setahun setelah kepergianmu. Mifzan, dia adalah sebuah hadiah untukku, juga untuk ayah dan ibu. Dan Uda, aku pun tak hanya berdua dengannya kini, karena di usiaku yang ke-11, aku memiliki satu saudara laki-laki lagi, Ridho. Dan dia juga tahu bahwa dia memiliki seorang kakak laki-laki lagi selain Mifzan. Saat dia bertanya: “ini siapa?” saat melihat foto-foto dirimu, aku akan sangat senang menjawabnya meskipun akupun tak bisa memungkiri bahwa aku mungkin akan menangis. Tapi aku bangga, karena hanya aku yang pernah langsung bertemu denganmu. Bahkan banyak sekali foto kita bersama.

Uda, akan tumbuh menjadi seperti apakah dirimu? Apa yang kau sukai?
Uda, aku akan selalu mendoakanmu. Mendoakanmu agar kau diberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya. Berdoa agar aku, ayah, ibu, Mifzan, Ridho, dan dirimu bisa bertemu dan berkumpul bersama di Surga kelak. Amin.

In Memoriam
Mufti Syafiq Kamal
9 Mei 1992-25 Oktober 1995
お兄ちゃん、今 あたし は 兄 がいるよ。

4 thoughts on “Untuk Dirimu yang Tak Pernah Kukenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s